Jumat, 17 Agustus 2018

Ngopi di Taman Bunga

Pada tahun 2009 seorang pemuda mulai bekerja di sebuah hotel di Yogyakarta. Dia berama Yopi. Walaupun sudah berada di posisi yang lumayan tinggi, namun pada tahun 2012 dia memutuskan keluar dari pekerjaannya karena dia merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas selain pekerjaannya yang terpaku dengan kakunya jadwal. Kemudian dia memilih menjadi freelance, artinya dia bisa melakukan apa saja asal bisa paling tidak menghidupi dirinya sendiri. Tentunya melalui cara yang benar. Dia sumpat menjadi barista di beberapa kedai kopi di Yogyakarta. Kemudian akhirnya dia juga menyuplai kopi di beberapa tempat. Kegermarannya itu dilakukan hingga kini. Saat ini dia menjadi salah satu orang penting di dLumpang Cafe and Resto. Namun menjual kopi tetap dijalankannya.
Yopi membuat menu kombinasi kopi dengan bunga telang
Menjadi bagian dari sebuah cafe and resto adalah hal yang paling menyenangkan baginya saat ini. Karena dia bisa menyalurkan hobinya dalam mengolah bahan makanan dan minuman. Dia menjadi pembuat beberapa menu yang ada di cafe tersebut, terutama menu minuman. Salah satu minuman yang diminati banyak pengunjung adalah ‘blue pigeon coffee latte’. Menu unik tersebut merupakan menu kopi dengan kombinasi bunga telang pertama di Yogyakarta hasil dari keingintahuan yang tinggi dari Yopi. Dia mengatakan sendiri ketika meminum menu yang satu ini merasa seperti “ngopi di taman bunga”. Hal itu dikarenakan bunga telang ketika dikombinasikan dengan kopi maka akan lebih keluar aromanya, walaupun ketika bunga telang diseduh sendiri tidak memunculkan rasa atau aroma yang kuat. “Saya memilih ini karena lucu dan menarik gambarnya, lalu ketika pesanan datang ternyata gambarnya tidak bohong”, ucap Ais yang saat itu ditemui sedang berkunjung ke dLumpang cafĂ© and resto. Temannya yang bernama Unti yang juga memesan menu minuman itu mengatakan bahwa rasanya cocok di lidah dan unik.
ka: Ais dan ki: Unti menikmati menu unik di dLumpang

Selain membuat menu, dia juga berkontribusi dalam mengatur desain cafe tersbut. Desain yang dibuat bersama teman-temannya menampilkan kesan kuno. Beberapa jendela kayu khas jawa dipasang di beberapa sisi. Beberapa barang kuno antik juga ditampilkan sebagai pelengkap di beberapa pojok. Bangkunya menyerupai bangku taman yag sudah using. Selain itu ada tampilan seperti tungku yang nyala oleh api. Cafe and Resto dipilih karena target pemasarannya adalah untuk kelompok orang misalnya keluarga atau sebuah klub. Menurutnya, jika hanya cafe saja maka tidak akan cocok. Karena cafe merupakan tempat yang orang cari hanya untuk minum kopi dan bisanya yang datang hanyalah anak muda yang ingin nongkrong dan asik berfoto. Sedangkan produk pertanian menurut Yopi seharusnya dapat dinikmati oleh semua kalangan dalam paket lengkap. Sehingga dLumpang dapat menyediakan semuanya mulai dari asik untuk ngopi, nongkrong, berfoto, dan makan bersama kawan-kawan atau kerabatnya.
Proses pembuatan blue pigeon coffee latte
Rasa penasaran Yopi membuahkan hasil. Selain menjual kopi, dia juga menjual bunga telang. Dia mengambil bunga telang di Martani Pangan Sehat untuk kemudian dijual ke beerapa cafe milik temannya atau yang lainna secara pribadi. Lingkupnya sekitar Yogyakarta dan Klaten. Dia mengakui bahwa saat ini dia belum bisa menjangkau pasar melalui media online karena dia bukan orang yang terbiasa menggunakan teknologi berbasis internet. Saat ini media sosial yang baru dia gunakanuntuk mengenalkan barang yang dia jual, dalam hal ini kopi dan bunga telang hanyalah instagram. Hal itupun belum dapat dia maksimalkan karena dia tidak intens menggunakannya terutama karena banyak pekerjaan fisik yang harus dia lakukan. Kedepannya dia menginginkan orang terdekatnya dapat membantunya untuk mengelola media yang dia miliki agar penyebaran kopi dan bunga telang milik petan lebih luas lagi. Menurutnya pemuda harus mengembangkan potensi yang ada di sekitarnya, terutama hasil dari pertanian. Lebih bagus lagi adalah untuk mendukung petani yang sudah menghasilkan barang dengan proses yang ramah lingkungan. Dia juga mengungkapkan bahwa menjual kopi dan bunga telang merupakan hal yang bisa dia lakukan saat ini dan dapat menjadi percontohan bagi pemuda yang lain.
blue pigeon coffee latte di dLumpang Yogyakarta


Jumat, 10 Agustus 2018

Organik Milik dan Untuk Siapa?

      Saat ini masyarakat sudah menyadari bahwa segala hal yang masuk ke dalam tubuhnya dapat mempengaruhi kehidupan selanjutnya. Kali ini kita berbicara mengenai pangan. Perhatian tersebut ditunjukkan dengan banyaknya permintaan produk organik di pasaran. Masyarakat sudah berani membayar mahal demi produk yang baik untuk tubuhnya. Hal yang paling mudah dilakukan adalah berbelanja bahan makanan di supermarket. Karena di sana kita bisa mendapatkan apa saja yang kita inginkan, termasuk produk organik. Mulai dari sayur, buah, bumbu, hingga kosmetik atau produk kecantikan.
Pak Wagiran sedang menanam padi
      Produk organik bagi masyarakat adalah produk yang sudah tercantum label 'sertifikat organik'. Lalu bagaimana dengan produk pertanian yang diproses secara organik namun tidak memiliki sertifikat yang disebutkan tadi? Jawabannya adalah tidak laku. Kemungkinan laku lebih rendah dari produk yang memiliki label tersebut.
      Beberapa petani yang ada di Karangmojo, Kecamatan Kalasan, Yogyakarta sudah dapat menerapkan pertanian organik. Selain Bu Hadi, ada juga Pak Wagiran yang memiliki beberapa petak sawah organik. Dia mengaku melakukannya sejak tahun 2009 ketika ada program dari pemerintah untuk pertanian organik. Hingga saat ini dia adalah salah satu yang masih bertahan walaupun tanpa dampingan dari mereka lagi. Beberapa lainnya tidak melanjutkan lagi karena merasa hasilnya tidak sebanyak jika menggunakan pupuk buatan. Hal tersebut terjadi karena tanah baru dalam proses memulihkan diri. Buktinya beberapa dari mereka yang menerapkan pertanian organik mendapatkan hasil yang maksimal setelah beberapa tahun tidak menggunakan pupuk dan obat-obatan buatan. "Dulu waktu awal-awal beberapa kali panen memang sedikit, kalau sekarang sama saja jumlah panennya kok.", ungkap Pak Wagiran. Dia juga menambahkan bahwa dengan menerapkan pertanian organik ini dia harus memiliki usaha yang lebih misalnya lebih sering ke sawah untuk mengecek tanamannya. Jika ada hama dia harus dapat menyelesaikan sendiri dan mencari jalan keluar selain menggunakan bahan kimia buatan. Pak Wagiran dan istrinya menerapkan tidak hanya untuk sawah padinya, namun kebun terongnya pun tidak ditambahkan pupuk dan obatan lain kecuali pupuk kandang dan pupuk cair buatannya sendiri.
Pak Wagiran bersama istrinya bertani tanpa obat dan pupuk buatan
      Pak Wagiran mengatakan bahwa dulu sawah ini (yang saat ini sedang meraka tanami) adalah lahan yang kering dan tidak bagus untuk ditanami apapun. Dia mencoba menganalisis sendiri apa yang terjadi dengan tanah itu dan ternyata hal itu terjadi karena telah bertahun-tahun dipaksa untuk memproduksi dengan cara ditambahkan obat-obatan terus menerus dengan dosis yang selalu ditambah hingga akhirnya tanah tersebut mengalami kejenuhan. Setelah sekitar 1 tahun diterapkan pertanian organik maka tanah kembali subur dan menunjukkan hasil yang baik bagi mereka. Namun mereka sadar bahwa arti organik itu sukar dipahami. "Ya saya melakukan begini tidak pakai bahan pupuk buatan, tapi kan saya tidak tahu mbak kalau sawah sebelah saya masih pakai obat.", ungkapnya. "Kadang kan juga misalnya waktu penggilingan, kami menggunakan penggilingan keliling yang mana semua petani menggiling sama dia, bisa saja kecampur, nah kadang orang yang beli bisa nanya sampai itu.", tambahnya sembari berfikir.
     Seperti syarat yang tertulis pada Peraturan Kementerian Pertanian No. 64 Tahun 2013 pasal 1 bahwa "Sistem Pertanian Organik adalah sistem manajemen produksi yang holistik untuk meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agroekosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah." Namun bagaimana jika petani sudah menerapkan hal tersebut namun dianggap tidak sempurna melakukannya karena terdapat pengertian tambahan dalam pasal tersebut juga bahwa "Organik adalah istilah pelabelan yang menyatakan bahwa suatu produk telah diproduksi sesuai dengan standar produksi organik dan disertifikasi oleh lembaga sertifikasi resmi.". Sedangkan untuk mendapatkan sertifikat organik bukan hal yang mudah bagi petani karena birokrasinya yang menyulitkan dan memerlukan biaya yang mahal. Dampak dari peraturan tersebut adalah produk petani kurang dilirik oleh pasar sehingga tetap saja pendapatan petani kurang memuaskan padahal sudah melakukan usaha yang lebih.
      Bagaimanapun juga pasangan sumi istri Pak Wagiran dan Ibu mengaku senang melakukannya, karena hasilnyapun memuaskan. "Saya suka dengan beras saya ini karena 3 sampai 4 hari saja tidak bau dan tidak busuk, paling cuma kering saja, kalau beras biasa paling 2 hari sudah busuk.", ungkap Bu Wagiran sembari menanam padi di sawah pagi itu. Selain itu mereka juga senang karena harga jualnya lebih tinggi dari beras biasa. Beras organik dihargai Rp15.000 per kilogram, sedangkan beras biasa hanya maksimal Rp11.000. Merka tetap bersyukur walaupun beras organik yang memiliki label sertifikat resmi damat mencapai Rp20.000 per kilogramnya.

Produk Pertanian menuju Kekinian

      Martani sebagai tempat belajar bagi siapa saja. Sore ini beberapa perempuan berkumpul, mulai dari anak sekolah dasar hingga ibu rumah tanga. Kali ini berkumpul untuk belajar bersama mengenai pemasaran menggunakan media online yang sekarang sedang digandrungi semua kalangan. Tingkat belanja masyarakat kali ini sangat besar terutama melalui media online, entah menggunakan media sosial maupun platform belanja lainnya. Haln tersebut terjadi karena kemudahan proses belanja itu sendiri. Berbelanja online sangat membantu bagi pembeli dan penjual, karena dimanapun kita dapat melakukan transaksi hanya dengan satu syarat, yaitu memiliki akses internet. 
      BI menyebutkan bahwa tingkat belanja online masyarakat Indonesia pada tahin 2017 mencapai Rp75 Triliun Rupiah ( https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170809151902-78-233513/belanja-online-masyarakat-indonesia-tembus-rp75-triliun ). Hal tersebut yang saat ini sedang ditangkap oleh Martani sebagai peluang agar masyarakat dapat memasarkan sendiri produk yang mereka hasilkan. Kebetulan hari ini Martani kedatangan tamu bernama Nike, seorang sarjana dari kampus ternama di Indonesia yang saat ini sedang menggeluti hobi dan pekerjaannya mengelola media online untuk berjualan. Dia sempat bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat di Bogor. Sembari bekerja, dia mulai mengelola media online nutuk berjualan ketika memiliki maktu luang. Baginya hal tersebut menjadi kesenangan tersendiri. "Apalagi waktu pertama-pertama menadapatkan orderan dari konsumen, rasanya seneng banget.", ungkapnya setelah memberikan materi. Pada akhir tahun 2017 dia memutuskan untuk berhenti. bekerja karena dia ingin kembali ke kampungnya, yaitu di Jambi untuk tinggal dekat berama keluarganya. Bahkan keuntungan yang didapatkannya per bulan saat ini lebin besar dari jumlah gajihnya ketika bekerja saat itu. Dia merasa senang dapat dekat denna keluarga namun tetap memiliki penghasilan sendiri.
Hasil gambar untuk media sosial jualan online
     Pengetahuan itulah yang ingin disampaikan dirinya kapada orang-orang terdekat bahwa semua kalangan bisa mendapatkan penghasilan (dalam hal ini materi) dari hobi. Dia menyampaikan dengan baik mulai dari hal paling umum mengenai media online hingga teknis untuk menjadi penjual di media online. Beberapa orang yang datang sedikit merasa kesulitan karena mereka tidak terbiasa menggunakan gadget. Namun beberapa diantara mereka langsung dapat mempraktikkan apa yang Nike sampaikan. Namun mereka memiliki keinginan kurt nutuk mencoba memahami apa yang disampaikan oleh Nike. Misalnya Mba Ning, dia memiliki sepetak kebun yang ditanami bunga telang dan kelor. Sampai saat ini dia belum bisa menjual hasil panennya langsung kepada konsumen akhir. Hal tersebut dia akui karena belum memiliki kepercayaan diri untuk menjualnya, padahal dia merasakan sendiri manfaat hasil kebunnya itu bagus untuk tubuh. Namun dia memiliki kesulitan untuk mengungkapkan kepada orang lain. "Saya ini suka bingung, sebenernya banyak yang suka nanya tentang bunga telang dan kelor manfaatnya dan lain-lain. Malah suka ada yang mau beli, tapi saya kasih saja gratis untuk nyicipin, karena saya tidak mengerti tentang itu.", ungkapnya di tengah waktu praktik berjualan di media sosial. Kemudian Nike mengarahkan untuk mengambil gambar bunga telang yang ada di Martani kemudian diposting dengan beberapa trik. Lalu benar saja, ada salah satu orang yang ada dalam kontak Whatsapp milik Mba Ning menanyakan mengenai produk tersebut. Itulah yang membuat mereka semua lebih sadar dan bersemangat untuk berjualan secara online.
      Kemudian Ajeng, anak SMA yang saat ini mulai tertarik berjualan online mengaku bahwa keinginannya berjualan adalah agar tidak meminta uang orangtua untuk membeli barang-barang keperluan pribadinya. Bahkan dia bersedia datang kembali ke Martani untuk belajar bersama Nike esok harinya.
      Harapan selanjutnya adalah akan ada lebih banyak lagi orang yang berproduksi dan dapat menjual hasilnya tersebut. Meningkatkan perilaku konsumtif dibarengi dengan produktifitas yang tinggi. Terutama dilakukan untuk produk hasil pertanian yang selama ini dipandang sebelah mata dan petani sendiri tanya bisa memproduksi tapa dapat memasarkannya dengan baik. Karena produk pertanian yang baik bukan hanya untuk masyarakat kelas menengah ke atas, semua orang berhak sehat dan mendapatkan produk yang baik. Hal ini menjadi PR besar terutama bagi para pemuda yang memiliki jaringan dan kemampuan lebin tinggi dalam mengelola teknologi. 

Minggu, 05 Agustus 2018

Perempuan dan Pertanian

Perempuan kurus menjemur padi yang tak lebih dari 5 karung. Dia tidak menghitung berapa kilogram yang dia dapat. Karena memang dia tidak pernah menghitung. Biasanya kalau butuh beras tinggal dia giling saja. Tak pernah sama sekali dia menjual gabah, apalagi beras. Semua digunakan untuk keperluan makan sehari-hari di rumahnya atau dibagikan kepada anaknya. Dia baru selesai panen 2 hari yang lalu. Beberapa hari ini panasnya tidak terlalu terik sehingga padinya belum kering sempurna. Dia memprediksi 2 kali penjemuran lagi akan siap giling jika panasnya stabil seperti ini. Dia adalah Ibu Hadi. Usianya sudah 54 tahun. Namun dia setiap hari selalu pergi ke sawah. Ada saja pekerjaan yang harus dilakukan. Entah itu membersihkan rumput, mengaliri air, atau mengusir burung. Sesekali juga dia memaneh hasil sayur yang usia tanamnya hanya dalam hitungan pekan. 
Hasil panen padinya sekarang berkurang, tidak sebanyak panen musim lalu. Setelah melihat hasil panen yang seperti itu, dia memperkirakan akan membeli beras nanti di waktu ujung sebelum panen selanjutnya datang. Padinya terkena hama sejak awal penanaman, sehingga pertumbuhannya tidak maksimal. “Waktu itu kena hama yang putih-putih itu loh mba.”, ucapnya dengan nada sedih. Selain itu, ini adalah panenan padi ke 5. Sehingga bisa diduga nutrisi tanahnya sudah berkurang. Artinya setelah ini dia akan menanam palawija. Karena dia memilih malakukan penggantian komoditas berpola 5-1. Sebanyak 5 kali tanam padi, maka ada 1 kali tanam palawija. Setahun penanaman dilakukan 3 kali. Artinya pola itu dapat berputar setiap 2 tahun sekali. Biasanya dia memilih kacang, sama seperti kebanyakan petani. Dia mengaku menanam dengan cara organik. Karena tidak memakai pupuk buatan. Dia hanya menggunakan pupuk kandang saja.
Dulu perempuan yang beranak 2 ini pernah mengikuti program dari pemerintah yang bertujuan membuat petani menanam secara organik pada tahun 2008. Namun sayangnya pendampingan itu tidak dilakukan dengan tuntas. Artinya petani hanya disuruh untuk menanam secara oraganik namun tidak ada solusi hingga akhir. Hasilnya adalah petani dibuat capek sendiri. Penyuluhan pembuatan pupuk juga tidak sampai memastikan semua peserta yang ikut dapat mempraktikkan sendiri. Tidak semua peserta yang ikut dari awal dapat bertahan. Namun Ibu Hadi masih bertahan hingga sekarang. 
Beberapa peserta yang memutuskan berhenti biasanya mereka yang memiliki lahan luas dan memperuntukkan hasil panennya untuk dijual. Karena ketika hasil panen organik sudah didapatkan, penjualan justru melambat karena harganya yang lebih tinggi. Itulah poin pentingnya lagi, pihak pembuat progam tidak menentaskan pekerjaannya yang seharusnya dapat menampung hasil panen petani, atau setidaknya memberikan jalan agar produk petani yang sudah susah payah diuji coba dapat terjual.
Namun bagi Ibu Hadi, itu tidak penting. Karena dia menggunakan berasnya sendiri, maka seberapapun harga beras di pasaran tidak pernah membuatnya pusing. Justru dengan menanam secara organik dia dapat merasakan manfaatnya makan sehat. Buktinya dia masih bugar hingga usianya 64 tahun ini. 
Selain padi, dia juga menanam berbagai macam sayuran seperti sawi, kangkung, kobis, cabai, dan lain sebagainya di pinggiran petakan sawah. Sayur mayur tersebut yang kadang dia jual jika hasilnya banyak. Karena sayur tidak dapat tahan lama jika disimpan. Dijualnya pun hanya ke tetengga saja, tidak sampai menggelar lapak. Baginya menanam sayur mayur menjadi hiburan dikala menunggu panen padi. Hal itu adalah salah satu yang dia sebut pekerjaan di sawah.
Ibu Hadi bukan orang yang terjun ke pertanian sejak muda seperti Mbah Budi. Dia baru menjadi petani setelah menikah, yaitu pada usia 23 tahun. setelah menikah dia langsung pindah ke dusun suaminya, yaitu Dusun Karangmojo, Desa Taman Martani, Kalasan, Yogyakarta. Sebelumnya dia berdagang, mulai dari di pinggir jalan, berjualan keliling, hingga punya lapak di Pasar Prambanan. Dia berjualan kelapa di Pasar Prambanan, yang sekarang menjadi halte bus Prambanan. Ingatannya terbang ke masa lalu yang mana dia selalu membawa anak sulungnya ke pasar, mencari uang sekaligus momong anak. Walaupun begitu, dia masih punya energi lebih, sepulang dari pasar dia akan mengurus rumah terlebih dahulu. Setelah itu dia pergi ke sawah untuk membantu suaminya. Rutinitas hariannya relatif sama, namun dia tidak pernah merasa lelah, dia selalu bahagia dan menebar senyumnya. Terakhir dia berjualan di pasar pada tahun 1998. Setelah itu dia memutuskan berhenti karena suaminya meninggal. Dia harus mengurus rumah, anak, dan sawahnya sendiri.
Setiap hari dia ke sawah walaupun sudah dilarang oleh anak-anaknya. Tapi dia tidak bisa diam saja di rumah. Karena dia merasakan jika sehari saja tidak ke sawah maka badannya akan sakit dan dia merasa bingung apa yang bisa dia lakukan. Lalu dia berfikir jika tidak mengurus sawah maka dia tidak bisa makan. Makanan yang dihasilkan dari sawah sendiri terasa lebih enak dibandingkan dengan bahan yang dibeli. 
Setiap sore dia main ke rumah anaknya untuk sekedar bercengkrama dengan cucunya atau membantu anaknya yang memiliki usaha angkringan. Terkadang dia di rumah anaknya sampai malam. Namun tidak lebih dari pukul 9 malam dia sudah kembali ke rumah untuk istirahat.

Sabtu, 04 Agustus 2018

Wedang Blangkon 'Ngangetke Awak'

Hampir setiap malam tempat makan atau sekedar tempat nongkrong di setiap sudut Yogyakarta selalu ramai dikunjungi orang. Orang lokal maupun pendatang ikut meramaikannya. Banyak hal yang mereka cari, selain untuk janjian ketemuan dengan kawan juga untuk mengisi perut yang kosong, atau hanya untuk cari penghangat tubuh. “Ngangetke awak mbak.”, ucap salah satu pengunjung di Wedang Blangkon. 

Setelah sederetan tempat makan, kedai, cafe, dan lain sebagainya, terselip sebuah tempat yang unik. Bentuk tempatnya nyaris sama dengan angkringan pada umumnya, yaitu menggunakan gerobak, itu dia Wedang Blangkon. Namun jika mengamati lebih dekat, di gerobak tersebut menyajikan berbagai macam rempah-rempah seperti jahe, kunyit, kencur, sereh, jeruk nipis, dan lain-lain. Ketika masuk lebih dalam lagi kita akan dikagetkan dengan 80 jenis minuman yang disebut wedang tertulis di dalam lembar menu. Seluruh menu terbuat dari rempah-rempah. Namun ada juga rempah yang dikombinasikan dengan bahan lain seperti susu dan perasa buah. 

Pemilik memilih wedang sebagai menu utama karena kelihaiannya melihat peluang. Saat ini belum banyak warung yang menyediakan wedang sebagai menu utama, biasanya hanya menjadi menu tambahan, itupun hanya menggunakan 1 jenis rempah, misalnya wedang jahe atau wedang kencur. Sedangkan di Wedang Blangkon menyediakan banyak sekali varian rasa wedang yang merupakan hasil dari kombinasi bahan. Sehingga pengunjung memiliki kesempatan untuk meminum wedang sesuai selera. Bahkan mereka juga bisa custom komposisi apa yang mereka mau. Namun tak hanya itu, pengunjung juga dapat menikmati makanan lain seperti gorengan, telur puyuh bacem, nasi kucing, dan jajanan lainnya sebagai pelengkap suasana. 

Tempat ini ramai sekali dikunjungi, terutama ketika musim kemarau, karena suhu udara sangat dingin sehingga cocok untuk meminum wedang. Tempat itu disewa oleh 2 pemilik usaha. Ketika siang hari dibuka sebagai jasa pencucian mobil dan motor. Sedangkan Wedang Blangkon dibuka setiap pukul 6 sore hingga 12 malam. “AKhir-akhir ini malah lebih banyak anak-anak muda yang datang daripada orang tua.” Artinya trend sekarang bergerak sangat cepat. Selain kopi yang memang saat ini masih terus berkembang, rempah-rempah juga bisa dikatakan mampu bersaing. Entah mungkin pengunjung sadar mengenai manfaatnya maupun hanya karena ikut-ikutan saja. 
Pemilik mengakui bahwa rempah-rempah harus dikembangkan, seperti yang kita ketahui rempah inilah yang menjadi salah satu kekayaan Indonesia. Kita dijajah karena kekayaan rempahnya, harga rempah dulu lebih tinggi daripada emas. Apakah kita menerima begitu saja jika kekayaan kita diambil tanpa berbuat apapun? Hal seperti ini yang harusnya kita lakukan sebagai generasi muda penerus bangsa. Melakukan inovasi produk yang dihasilkan oleh masyarakat. Agar tidak terjadi lagi perampasan dari orang lain. 
Ketika kita berinovasi maka kita sendiri mendapatkan manfaat, apalagi orang lain, dan alam di sekitar kita. 

Kamis, 02 Agustus 2018

Belajar, Mengajar, dan Pembelajaran

Sebagai kota pelajar tentunya Yogyakarta punya banyak tempat untuk belajar. Hingga saat ini kita masih seringkali mengartikan bahwa yang disebut belajar adalah belajar formal, yang mana terdapat status, tenggat waktu, dan berbagai aturan yang harus ditaati. Namun sesungguhnya belajar itu dimana saja. Martani Pangan Sehat hadir di Yogyakarta sejak tahun 2015 untuk menutupi kekurangan itu. Konsep belajar yang harus diperbaiki menjadi salah satu alasannya. 
Martani sedang berupaya untuk menjadi pasarnya petani. Artinya terdapat interaksi dan proses jual beli antara siapapun dengan petani. Produk yang dijual tidak terbatas jenis dan jumlah. Apapun dapat mereka jual dan beli. Martani memiliki keinginan agar produk yang dihasilkan petani dapat tersebar dan dinikmati oleh orang-orang sekitar. Hal itu berawal dari keresahan sepasang suami isteri bernama Yusup dan Rita yang seringkali melihat bahwa prosuk petani dihargai sangat murah. Selain itu mirisnya adalah produk bagus dari petani hanya dapat dimanfaatkan oleh kalangan menengah ke atas. Sehingga lagi-lagi masyarakat biasa hanya dapat menikmati sisa, yang biasanya berkualitas buruk. Kita dapat melihat, produk pertanian yang berkualitas super hanya ada di pasar modern yang mana masyarakat menengah ke bawah tidak dapat mengakses karena keterbatasan ekonomi. Padahal mereka berhak mendapatkan produk kualitas raja. 
Mengapa harus terkotak-kotakkan bahwa yang ini hanya untuk dia, yang itu hanya untuk dia. Keberadaan Martani juga ingin merubah kenyataan itu, dengan cara mengusahakan agar produk super dapat dibeli dengan harga emperan. Bagaimana caranya? Yaitu dengan membantu petani dalam melakukan proses produksi, mulai dari penanaman hingga pengepakkan barang jadi, bahkan hingga barang sampai di tangan konsumen. 
Salah satu penyebab mahalnya produk super adalah karena proses produksi harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Misalnya mereka harus sering menyiangi rumput pengganggu. Berbeda jika proses penanaman menggunakan obat-obatan seperti pestisida, herbisida, dan lain-lain sehingga pengganggu tanaman lebih sedikit sehingga petani tidak lebih banyak pekerjaan. Belum lagi penanaman tanpa obat tidak selalu membuahkan hasil dengan kuantitas yang lebih baik. Itulah yang menyebabkan harga produk super lebih tinggi.
Martani memposisikan diri dan terbuka sebagai laboratorium bagi semua orang yang mau belajar dan berinovasi. Misalnya bagi petani, mereka dapat datang dan mencoba bersama bagaimana membuat pupuk tanpa bahan kimia. Gagal dalam mencoba adalah hal biasa, dan Martani sangat memahami hal itu. Keberhasilan percobaan pembuatan pupuk cair adalah salah satu solusi real yang dilakukan. Sehingga petani dapat menekan biaya produksi karena tidak perlu lagi membeli obat untuk tanamannya dan juga tidak harus menyiangi rumput setiap hari. Selain itu jika tanaman terkena hama, mereka dapat mencoba sendiri membuat ramuan pengusir hama. Setelah beberapa kali percobaan, barulah ramuan itu berfungsi dengan baik. 
Proses pembelajaran tersebut tidak terjadi hanya dalam satu atau dua pekan. Ada cerita panjang dibalik semua itu. Misalnya bagimana cara menyampaikan kepada masyarakat, khususnya petani yang mulai enggan untuk melakukan percobaan. Petani kita sudah dibuai dengan produk yang dijual masal yang kesannya dipaksa untuk menggunakannya dengan dalih “ini lebih bagus, ini lebih mudah, ini lebih mudah terjual, dan lain sebagainya”. Hal ini rupanya dimulai sejak adanya revolusi hijau. Namun gerakan ini dinilai gagal. Bukan hanya sola swasembada pangan yang diimpikan hanya dapat bertahan beberapa tahun di awal saja. Namun juga menjadikan masyarakat, terutama petani menjadi sekarang ini yang sudah disebutkan bahwa mereka enggan mencoba hal baru sendiri. Hasilnya adalah keuntungan yang dapat dikeruk oleh perusahaan-perusahaan besar penyedia bahan pokok pertanian. 
Pendekatan itulah yang kemudian menjadi dasar Martani bergerak. Proses komunikasi dengan masyarakat mengenai bagaimana bertani yang baik memakan waktu kurang lebih 1 tahun. Masyarakat lebih percaya pada praktik daripada cuap-cuap tanpa aksi. Martani ingin menunjukkan bahwa kita bisa menggunakan sumber daya yang kita miliki untuk menjadi petani yang baik. Baik dalam hal ini adalah untuk diri sendiri, orang-orang sekitar, dan pastinya juga untuk lingkungan. Ketergantungan petani pada produk bahan pertanian yang terpampang dimana-mana memang sulit diubah. Namun dengan berbagai hasil percobaan akhirnya solusi dapat ditemukan atas pemikiran bersama antara Martani dan petani. Salah satu contohnya adalah pembuatan pupuk cair yang dapat menggantikan pupuk kimia dan obat-obatan lain. Setelah itu barulah beberapa petani mulai tertarik untuk menjadi petani yang baik. Mereka itulah yang kemudian menghentikan penggunaan pupuk buatan dan menggantinya dengan pupuk cair yang bisa mereka buat sendiri. Selain itu mereka juga menyiapkan benih sendiri tanpa membeli benih produk pabrikan yang seperti dulu mereka lakukan. 
Langkah tersebut memang jika dilihat sekilas akan terlihat sederhana. Namun cerita dibalik suksesnya Martani dapat dipercaya oleh masyarakat sangatlah panjang dan rumit. Kemudian jalannya tidak hanya sampai di situ. Setelah menjadi petani yang baik kemudian mereka juga ingin mendapatkan hasil yang baik, dalam hal ini berkaitan dengan ekonomi. Tidak dipungkiri bahwa kebutuhan utama manusia adalah uang untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Setelah petani memiliki produk dari sawahnya, lalu akan diapakan? Lagi-lagi peran Martani kembali terlihat yaitu dengan menjadi perantara antara petani dengan pembeli. Namun harapan Martani, ini tidak perlu berlangsung lama, karena Martani menginginkan agar petani dapat menjadi petani yang baik dan mandiri. Artinya di kemudian hari petani dapat mnghasilkan uang sendiri dari hasil sawah/ kebunnya tanpa memerlukan Martani sebagai perantaranya lagi. Itulah pembelajaran yang dilakukan dan didapatkan oleh Martani dan masayarakat di sekitarnya.
Selain itu, Martani juga menjadi laboratorium bagi para pemuda. Tidak mengenal status, mulai dari pengangguran, pekerja, lulusan SD, SMP, SMA, anak kuliahan, hingga orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal sekalipun. Mereka dieprsilahkan datang ke Martani untuk mencari tahu mengenai produk pertanian. Mulai dari berbincang hingga praktik membuat sesuatu bersama dapat dilakukan di Martani. Mengapa disebut pemuda? Bukan saja mengenai usia, orang yang sudah berumur jika semangatnya masih kuat juga bisa dikatakan pemuda. Karena pemudalah yang menjadi harapan untuk kehidupan selanjutnya. Apa yang terjadi jika tidak ada pemuda yang meneruskan menjadi petani yang baik nantinya?
Berbagai alasan mereka datang ke Martani, namun kebanyakan bermula dari rasa penasaran dengan apa yang dilakukan Martani selama ini. Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya bahwa Martani menjadi perantara maka banyak produk petani yang seolah-olah dititipkan di sana hingga menemukan pembelinya. Para pemuda yang datang belajar untuk mengolah produk petani yang setengah jadi agar dapat memperluas pasar produk petani baik. 
Misalnya ketika ada petani yang menghasilkan tepung dari umbi-umbian. Maka sebagai pemuda harusnya memiliki tingkat kreativitas yang tinggi untuk mengolahnya kembali menjadi produk siap guna. Beberapa dari mereka yang datang memiliki ide untuk membuatnya menjadi cookies. Martani sangat terbuka untuk menjadi tempat percobaan. Tidak hanya proses membuat cookies/ lainnya. Namun selipan pembelajaran mengenai cerita tentang petani yang menjadi penguatnya. Sehingga mereka akan melakukannya secara sadar dan ikut memikirkan bersama bagaimana caranya petani, konsumen, dan kita semua sejahtera dengan cara bertani yang baik. 
Para pemuda yang datang juga berpotensi untuk menyebarkan informasi. Karena jaringan mereka masih terus meluas dan tentunya gaya hidup yang mudah terpengaruh. Percobaan yang mereka lakukan di Martani dapat menjadi dasar untuk berbicara kepada orang lain. Harapannya kesolidan mereka dapat mempengaruhi banyak orang agar dapat mengonsumsi produk dari hasil petani yang baik juga.
Pembelajaran untuk Martani sendiri tentunya sangat banyak. Mulai dari mengorganisir antara kepentingan petani dan kepentingan konsumen, mengatur pengetahuan, hingga melakukan proses tawar menawar. Terlebih bagaimana caranya menerapkan ilmu langsung di lapangan. Proses itu yang akhirnya menjadikan Martani mengenal banyak karakter manusia maupun lingkungan. Hal tersebut dikarenakan berbagai macam orang yang dihadapi oleh Martani sendiri. Mau atau tidak mau, Martani juga harus mengenal lingkungan yang menjadi tempat praktikkya. Jika tidak maka akan berujung sama dengan yang disebut Revolusi hijau tadi. Kejadian menyenangkan, lucu, dan unik selalu terjadi. Sehingga semakin banyak orang dan jenis lingkungan yang ditemui maka banyak juga pembelajaran yang didapatkan.  

Selasa, 31 Juli 2018

Sawah Membangun Harapan

“Sawah membangun harapan” adalah ungkapan Pak Tarno ketika mengajak saya dan teman saya yang bernama Bahrul pergi ke sawahnya. Harapan apa sih yang ada di sawah, saya pun awalnya masih menerka-nerka. Kemudian bapak yang berusia 52 tahun itu meneruskan kalimatnya bahwa saat ini dia sangat berharap dengan hasil dari sawahnya. Dia tidak memiliki pekerjaan tetap namun setiap hari dia tetap ke sawah. Dia sering dipanggil orang untuk memijat. Bagi dia, bakat memijat telah dititipkan Tuhan padanya, dan dia bersyukur. Anaknya juga rupanya memiliki bakat yang diturunkan oleh ayahnya. Jadi pendapatan mereka tidak pasti, tergantung seberapa ramai permintaan pijat itu.
Tidak banyak jenis yang dia tanam. Dia memiliki sepetak tanah yang rutin ditanami padi, itu menjadi komoditas pokok yang tidak boleh digantikan. Dia juga menanam di petak yang lain berupa cabai atau tomat secara bergantian. Tanah tersebut adalah milik Pak Tri, tetangganya. Mereka memiliki kesepakatan kerjasama sendiri. Namun pendapatannya juga tidak pasti karena harga cabai dan tomat itu seringkali bergejolak. Bisa dihargai sangat rendah. Hal itu yang membuatnya berfikir untuk menanam komoditas lain.
Pak Tarno membangun harapa dari sepetak sawah
Pada suatu hari bapak beranak 4 ini berbincang dengan kawannya yang benama Pak Tri dan sekaligus pemilik tanah. Dia menyarankan agar Pak Tarno menanam bunga telang. Awalnya Pak Tarno tidak tahu sama sekali mengenai bunga telang, begitupun dengan Pak Tri yang baru tahu dari kabar mengenai Mbah Budi di Dusun Tulung. Cerita mengenai bagaimana Mbah Budi dengan bunga telangnya tidak hanya berkaitan dengan nilai materi yang didapatkan namun juga manfaat yang diberikan.
Hal itulah yang membuat Pak Tarno tertarik ingin mencoba menanam bunga telang. Dia memulainya dengan datang menemui Mbah Budi bersama Pak Tri untuk mencari tahu bagaimana menjadi petani bunga telang yang baik. Banyak hal menarik yang dia dapatkan bahwa ternyata bertani bukan hanya mengenai uang yang didapatkan, juga harus menikmati setiap proses yang dilewati. Mulai dari menyemai, menunggu hingga berbunga, kadang terjadi serangan ulat, harus berani berinovasi, harus memperhitungkan kesehatan lingkungan, kesehatan para pengguna produk, dan lain lain. Setelah mengetahui itu semua maka Pak Tarno semakin yakin untuk menanam bunga telang.
Selain itu, Pak Tarno sudah membuktikan sendiri dengan manfaat bunga telang. Sehingga dia tidak hanya bermodal bicara nantinya. Dia mengalami katarak sejak lama. Setelah mengetahui bunga telang dapat membantu menyembuhkan maka dia mencobanya. Setiap hari dia minum air rendaman bunga telang. Dia juga meneteskan bunga telang segar yang baru dipetik kurang lebih sepekan sekali. Beberapa kali menggunakannya membuat penglihatannya merasa lebih baik. “Waktu diteteskan ke mata, kototran keluar seperti selaput gitu mba.”, katanya sambil duduk di bangku kayu. Pak Tarno yang pembawaannya selalu guyon (bercanda) itu bisa juga menjadi sangat serius. 
Sepetak lahan yang dulunya ditanami cabai atau tomat itu kemudian dibersihkan kembali dan digunakan untuk menanam bunga telang. Saat ini tanamannya masih setinggi 20 cm. dia baru menanam selama 2 pekan. Cara penanamannya adalah secara bersamaan. Satu petak tersebut terbagi menjadi 5 gundukan. Masing-masing gundukan terdapat 115 lubang yang ditanami. Sehingga total seluruh tanaman adalah 575. Suatu saat nanti harapan akan tumbuh bersama bunga telang yang mekar setiap pagi.
Pertanian bunga telang yang baru berumur 2 pekan
Inilah yang dia sebut sawah membangun harapan. Dia berharap pada hasil pannen nantinya, harapan itu tidak hanya ungkapan. Dia harus berusaha agar harapan itu terwujud. Setiap hari dia kerahkan sebagian tenaganya untuk ‘menengok’ sawahnya. Jika ada masalah maka dia akan mencoba mencari solusi. Dia tidak sendiri, tapi bersama isteri dan anak-anaknya, seringkali juga dia datang ke Rita dan Yusup untuk bertanya atau mendiskusikan solusi yang harus dicapai untuk mewujudkan harapan. Karena harapan itu tidak semata-mata untuk dirinya, namun juga untuk keluarga, teman, hingga orang yang tidak kita kenal.
Mengenai sawah dan menanam selain menjadi harapan juga sebagai latihan untuk mandiri. Setelah berkeliling ke sawahnya, kami duduk bersama di depan rumah Pak Tarno, dengan istri dan anak-anaknya. Anak sulungnya bercerita bagaimana menjadi bebas adalah pilihan. Sehari-hari dia menjadi tukang pijat, seperti yang dilakukan bapaknya. Hal itu membuat dia senang. Dia bercerita bahwa ada temannya yang sudah sukses menjalani sebuah bisnis justru melakukan langkah yang menurutnya kurang tepat. kesalahan itu terletak pada pilihannya menjadi seorang karyawan di sebuah perusahaan. Tak dapat dipungkiri bahwa keinginan itu muncul ketika ada tuntutan dari keluarganya. Mereka menginginkan anaknya menjadi seorang pegawai yang berpakaian rapih dan memiliki jam kerja. Padahal unit bisnisnya sudah mulai stabil. Komoditas ayam hias yang digelutinya memiliki permintaan yang tinggi. Keluarga dibaliknya tidak menyadari jika dia adalah seorang bos dari sebuah perusahaan. Fenomena ini seringkali terjadi karena kita hanya melihat orang dari sampulnya saja. Unit usaha itu masih berjalan hingga sekarang dengan bantuan dari teman yang lain yang mengurusnya. “Malah sekarang jadinya temen itu yang terkenal dimana-mana sebagai pengusaha, padahal itu milik orang lain yang tidak terurus”, ucap anak sulung Pak Tarno.
Dia tidak ingin mencontoh pada temannya. “Itu salah kaprah.”, tambahnya. Dia ingin membangun usaha sendiri yang sesuai dengan keinginan dan kemampuannya yang untung saja tentunya ada dukungan dari keluarga, terutama Pak Tarno sebagai bapaknya.