Senin, 11 Mei 2015

Studi Lapangan Kecil dan Panjang di awal 2015 part 1

Tidak terasa sudah bulan Mei, dan saya baru ingat ada sesuatu yang belum saya kecitakan. Ini cerita yang pasti ada setiap tahun di Lawalata, tapi kali ini cerita saya berbeda. Tulisan ini saya buat pada bulan Februari 2015.



Gambar 1 anggota MPCA LAWALATA IPB sejumlah 19 orang yang siap menempuh Studi Lapangan Kecil

Saatnya datang kegiatan tahunan yang biasa dilakukan oleh Lawalata yaitu Studi Lapangan Kecil Masa Pembinaan Calon Anggota (SLK MPCA). Tujuan SLK untuk mempertajam materi yang telah diberikan dari pertama MPCA dilantik. Adapun materinya adalah survival, SAR, navigasi darat, metode komunikasi, jurnalistik, dan dokumentasi. SLK juga bertujuan untuk mempererat ikatan antarMPCA sehingga kedepannya akan mudah dilakukan kegiatan besar yang dilakukan bersama.

Sebelum melakukan kegiatan SLK tersebut, MPCA terlebih dahulu harus menjalani karantina yang dilakukan di sekertariat Lawalata. Karantina dilakukan untuk mempersiapkan seluruh keperluan untuk perjalanan panjang SLK. Persiapan tersebut antara lain adalah persiapan fisik dengan berolahraga rutin dengan porsi yang telah ditentukan oleh tim Badan Pembinaan Calon Anggota (BPCA) dan menjaga asupan makanan, mental, peralatan jalan minimum, dan berlatih koordinasi seperti membuat saung, taman, dan kolam di halaman sekertariat Lawalata, serta pendalaman literatur tentang jalur dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan selama SLK.

Jalur SLK dirumuskan oleh BPCA dengan persetujuan anggota Lawalata. Perjalanan dimulai dari desa Cirasamala, lalu naik ke gunung Halimun, setelah itu turun kembali menuju Kasepuhan Adat Ciptagelar melewati hutan Pameungpeuk, dengan tujuan akhir di pantai Seupang, Sawarna, Sukabumi. Semua rundownpun telah dibuat sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Tanggal 26 Januari 2015 adalah saatnya kami semua untuk packing. Segala sesuatu terkait logistik dipersiapkan dengan baik, tidak ada yang tertinggal, dan membuat packing-an serapih mungkin sehingga ransel terasa nyaman di punggung. MPCA yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 19 orang, dan anggota Lawalata yang mendampingi berjumlah 5 orang, yaitu Ve, Daus, Aziz, Raycel, dan Anisa. Sebenarnya anggota MPCA terdiri dari 20 orang, tetapi 1 orang tidak ikut dalam kegiatan SLK karena kecelakaan kecil yang dialaminya saat karantina.

Hari yang ditunggu-tunggupun datang, 19 anggota MPCA dan 5 anggota Lawalata terlihat gagah dengan ransel dan sepatu gunungnya masing-masing. Pukul 9.00 WIB kami berangkat menuju desa Cirasamala menggunakan satu buah truk. Kondisi jalan yang kurang baik karena melewati tumpukan batu membuat badan kami bergoyang dalam truk. Setelah 4 jam perjalanan kamipun sampai di desa Cirasamala. Turun dari truk kami melenjutkan dengan berjalan kaki menuju Gunung Halimun. Sesampainya di pucak 1 Halimun kami mendirikan tenda untuk menginap.

Gambar 2 Anisa, Ve, Daus, Pak Oding (ki-ka) 
selalu mendampingi MPCA selama perjalanan 
SLK di Gunung Halimun

Hari berikutnya adalah saatnya kami untuk menembus puncak utama Halimun ditemani Pak Oding warga asli desa Cirasamala. Perjalanan tersebut sangat menguji kesabaran kami, karena harus melewati 7 puncakan terlebih dahulu. Di puncak utama kami beristirahat dan makan siang terlebih dahulu. Tepat pukul 13.00 WIB kami turun dan langsung menuju hutan Pameungpeuk. Satu anggota Lawalata terlebih dahulu pulang karena ada kepentingan yang harus diselesaikan yaitu Anisa. Selain Anisa, semua melanjutkan perjalanan sampai ke pintu masuk hutan Pameungpeuk. Sampai di sana waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Di pintu masuk hutan Pameungpeuk kami kembali mendirikan tenda untuk beristirahat. Ada tambahan 2 orang anggota yaitu Akbar dan Aji. Hal itu membuat suasana semakin ramai.

Tanggal 29 Januari 2015 pukul 09.00 WIB kami melanjutkan perjalanan sampai setengah sebelum sampai ke Kasepuhan Adat Ciptagelar. Karena di pertengahan hutan itu kami akan menerapkan materi sesuai dengan rencana. Rencana kami adalah bermalam 3 hari di sana. Pada malam kedua ada juga tambahan anggota Lawalata yang menyusul yaitu Sheila, Ariya, Kasrizal, Galang, Irham, Hanif, dan Ira. Di sana, MPCA mempraktekkan lapangan SAR dan survival yang dilakukan dengan lancar.


Gambar 3 MPCA melakukan orientasi medan denga mengaplikasikan navigasi darat sebelum melanjutkan perjalanan

Disambung besok ya kawan, shalat Maghrib dulu. Masih banyak cerita sesampainya di Desa Ciptagelar, dan serunya di Pantai Seupang.

Twitter : @viedela_ve
IG : veviedelaak
Email : veviedelaak@gmail.com

Senin, 04 Mei 2015

Sebuah Buku untuk Hari Pendidikan nasional

Bersyukur bahwa Buku Hasil Ekspedisi Tanah Borneo yang berjuduk “Kampung Merabu, Serpihan Surga Rima Puri Tanah Borneo” telah selesai dibuat. Awalnya aku tak yakin buku ini akan selesai, karna setelah dikuatkan satu sama lain akhirnya kami mencoba memulai terlebih dahulu tanpa memikirkan hasilnya. Bulan November 2014 lalu aku bertemu dengan Mba Rita Mustikasari di suatu tempat secara tidak sengaja. Seminggu setelah itulah kami janjian untuk ketemu lagi.

Setidaknya aku sudah punya beberapa bayangan tentang cerita yang akan kami masukkan ke dalam buku tersebut. Yang pasti kami ingin foto kami mampang di dalam buku (selalu narsis, pengen banget dikenal orang). Salah satu dari kami nyletuk, “Kalau mau fotonya dimasukkin ya tulis ceritanya.”,  betul sih. Oh ya lanjut, paling tidak kalau hari Minggu ga ada kerjaan aku bertemu dengan Mba Itok (panggilan untuk Mba Rita Mustikasari) untuk sharing apa yang telah kami tulis dan curhat dikit tentang kendala peyusunan buku kami ini.

Berbulan-bulan kami mengerjakan ini (walaupun tidak sampai lembur setiap malam), tapi kami masih bisa jalan-jalan. Aku sempat pergi ke Lampung, Palembang, dan melakukan kegiatan perjalanan pajang SLK, mungkin jika aku tidak pergi buku ini bisa selesai lebih cepat. Setelah semua dokumen tulisan dan foto terkumpul, kami kemudian menyusun dan mengeditnya. Kami dibantu oleh Mba Itok da Mba Nonet (bernama asli Sudiah Istiqomah) dalam pengeditan. Wow 2 orang senior ini adalah pentolan-pentolan penulis di Lawalata IPB (organisasi kami), dengan sabarnya mendampingi dan memberi kami pengarahan pembuatan bukudari awal hingga selesai, bahkan hingga pempublikasian buku ini.
Cover Buku "Kampung Merabu, Serpihan Surga Rima Puri Tanah Borneo"

Hingga akhirnya tanggal 1 Mei 2015 buku kami sudah selesai dalam bentuk Pdf. Tanggal 2 Mei 2015 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional akhirnya kami launching buku “Kampung Merabu, Serpihan Surga Rima Puri Tanah Borneo” di Kedai Kopi Klotok Cibanteng Dramaga, Bogor (sebelah kanan Kantor Pegadaian). Kami memilih Hardiknas agar kita semua saling ingat bahwa menulis dan membaca adalah hal yang sangat penting dan membuat kita bebas berfikir tanpa batas.


Setelah launching rasanya seperti bisul yang pecah (walaupun aku belum pernah bisulan), lega banget. Bagus juga tanggapannya yang secara langsung diungkapkan kepada kami maupun lewat media sosial yang kami miliki. Beberapa orang yang memberi tanggapan menginginkan memiliki buku ini. Kami merasa sangat berharga bisa membagi pengalaman dengan orang lain. Kami harap dengan membaca buku ini, pembaca dapat merasakan berada di Kampung Merabu. Menikmati  keramahan warganya, bisa berenang di Sungai Lesan, dan bercerita tentang Bunga Inu dengan Pak Ransum (wakil kepala adat Dayak Lebo Kampung Merabu), berpesta serta menarikan tarian Remit Bunga, dan mencicipi manisnya Madu Hutan yang diproduksi sendiri oleh warga Kampung Merabu. 
Andayani, Kasrizal, Sheila, Ve (saya)

Twitter : @viedela_ve
Fb : Viedela AK
Email : veviedelaak@gmail.com
IG : veviedelaak

Selasa, 03 Maret 2015

Maling dan Keamanan

Seringkali aku merasa gelisah, keamananku terganggu. Berita begal dan maling sedang memarak di Bogor dan sekitarnya. Detak jantungku belakangan ini selalu berdetak lebih cepat setelah kejadian kemalingan 5 hari lalu. Bisa-bisanya maling sekarang sangat cerdas dalam memahami teori peluang. Tau aja kalau rumahku sedang tidak kosong.
Sepulang kuliah sore itu aku berniat pulang dan mengecek listrik di rumah kontrakanku di Perumahan Taman Dramaga Permai. Awalnya aku melihat suatu kejanggalan yang ada di dalam rumah, posisi kotak buku yang terbuka, kopet yang berada tidak pada tempatnya, dan saat membuka lemaripun rasanya baju berantakan. Padahal sebelumnya aku baru saja merapihkan semua itu.
Aku mulai curiga, kutelusuri setiap sudut rumahku apa yang sebenarnya telah terjadi, karena aku merasa perbuatan itu tidak mungkin dilakukan oleh makhluk halus yang licik. Itu adalah hasil tangan manusia yang serakah. Benar saja, pintu kamar sebelah telah terbongkar gemboknya. Di sana aku belum mengetahui barang yang hilang dari kamarku. Langsung saja aku ke ruang belakang dan melihat tembok yang sudah berlubang. Kalau sudah begini pasti ada yang tidak beres. Benar saja kulihat pompa air yang berada di dapur telah lenyap. Aku masih belum mempermasalahkan hal itu.
Beberapa detik aku merasa tidak punya tulag ketika aku tahu barang kesayanganku menghilang. Redo menghilang, Redo adalah kawan berpetualangku selama ini, dia adalah ransel gunungku. Saat itu aku mulai meneteskan air mata, rasanya separuh jiwaku pergi. Betapa teganya si maling, karena ternyata bukan hanya dua barang itu yang dia ambil, namun banyak lagi barang-barang yang tidak bisa juga dianggap remeh, seperti jaket, pakaian, HP (walaupun sudah tidak aku pakai), hingga barang-barang kecil seperti stop kontak dan beberapa celengan uang koin yang sengaja aku kumpulkan.
Kurang nikmat apa hidup di dunia ini, dengan bodohnya dia mengotori dengan perbuatan yang memalukan seerti itu. Atau mungkin aku yang sedang kurang beruntung, dan barang-barang yang diambilnya lebih berguna untuk dia. Aku tidak bisa memaknai dengan sempurna. Walaupun begitu aku harap kota ini masih aman untuk aku bermain dan belajar. Aku himbau untuk para pembaca agar selalu waspada, jaga diri dan barang anda dimanapun anda berada. Laporkan segera ke pihak keamanan jika terjadi suatu hal yang mengancam keamanan anda.
Twitter : @viedela_ve

Jumat, 13 Februari 2015

Merabu Juga Punya Rambo

Hutan Merabu adalah tempat main bapak borotot yang satu ini. Pak Rana adalah pribadi yang unik di Kampung Merabu. Parasnya yang kekar dengan gigi yang sedikit hitam membuat penampilannya semakin gagah, sehingga warga sering memanggilnya Rambo. Kebiasaan tidak memakai baju adalah salah satu hal unik Pak Rana yang memudahkan kami mengenalnya. Celana pendek dan sepatu karet cukup untuk menemaninya dalam petualangan di hutan. Dan seperti suku Dayak pada umumnya, Pak Rana tidak pernah lalai menggantungkan mandau di pinggangnya. “Kalau tidak bawa mandau, aku merasa ada yang kurang.”, ucap Rambo saat membersihkan tanah dari rumput liar.

Parasnya yang seram membuat kami takut menatapnya saat pertemuan pertama kami. Saat itu kami beradaa di kantor Kerima Puri sembari melakukan pembagian sumberdaya warga yang menemani kami dalam pengambilan data di hutan. Asap rokok pekat menyebul dari mulutnya, duduk di pojok ruangan Kantor Kerima Puri. Kami belum sempat berbincang dengannya, hanya saja beberapa kali kami meliriknya dari kejauhan tanpa sepengetahuannya.
Betapa kagetnya kami ketika mendengarnya tertawa, kami tertawa melihatnya tertawa. Gigi-gigi hitamnya ditonjolkan dan matanya yang sipit semakin tak terlihat ketika beliau tertawa. Dari hal tersebut kami tidak lagi canggung berkegiatan dengan beliau. Tergambar jelas bahwa beliau benar-benar seorang kawan yang peduli. Kami dibuat selalu ceria oleh Rambo yang satu ini. Hatinya begitu lembut, jauh berbeda dengan paras seramnya.
Pak Rana adalah mertua dari Kepala Kampung Merabu, Pak Franly Oley. Saat itu beliau sudah memiliki seorang cucu yang berernama Jesica Oley hasil perkawinan anak perempuannya. Pak Rana menyayangi Jesica, beliau mengabulkan semua kemauan cucu pertamanya tersebut.
Bicara tentang Merabu, tidak lepas juga bicara tentang hutannya yang menyimpan kekayaan nan melimpah. Hutan menjadi tempatnya unruk pulang. Karena hampir setiap hari beliau pergi ke sana. Banyak yang ia kerjakaan, dan sangkin seringnya hingga beliau hafal semua jenis pohon di hutan Merabu. Bukan hanya jenisnya, beliaupun paham manfaat dari setiap pohon. Karena beliau sendiri dengan warga Kampung Merabu masih sering menggunakan obat-obat alamiah yang diambil dari hutan. Sehingga beliau diutus oleh pihak The Nature Concervation untuk membantu kami mengambil data pohon dalam analisis vegetasi, untuk mengetahui nama lokal dan fungsi pohon tersebut.
Pak Rana menemani kami dalam pengambilan data analisi vegetasi di sekitar mulut gua Bloyot, Lubang Tembus, dan Sedepan Bu. Di Bloyot didapatkan hasil beberapa jenis pohon, yaitu petek, kelideng, ngelo, ketek-ketek, repeh, goros. Di Lubang Tembus memiliki beberapa jenis pohon, yaitu nayub, merenai, binang, langkor, dan ketek. Di sana juga terdapat banyak tumbuhan liana dan rotan yang biasa dimanfaatkan warga Merabu sebagai bahan kreatifitas. Sedangkan di gua Sedepan Bu hanya terdapat beberapa jenis pohon saja, hal tersebut terjadi karena jenis tanahnya yang berbeda dari Gua Bloyot dan Lubang Tembus. Tanah di Gua Sedepan Bu relatif lebih becek (karena merupakan aliran Sungai Bu), dan berbatu. Jenis yang diamati seperti binang dan ngelo, ukuran pohon juga relatif lebih kecil dari pohon-pohon yang diamati di eksokarst Bloyot dan Lubang Tembus.

Memiliki Ibu dan Ayah di Kampung Merabu

Satu lagi yang unik di Kampung Merabu, pertama kalinya dipakaikan gelang oleh sebuah keluarga belum lama kami kenal. Gelang atau kalung yang terbuat dari manik-manik telah diberikan kepada seseorang, artinya dia telah sah diangkat menjadi anaknya. Dayak terkenal dengan manik-maniknya, keberadaan manik-manik sudah sangat lekat dengan kehidupan suku Dayak. Namun dayak Lebo yang ada di Merabu  tidak memproduksi manik-manik sendiri, pembuatan kerajinan manik-manik hanya dilakukan ketika ada keperluan saja, seperti sebagai hadian kepada pendatang yang diangkat menjadi anaknya. Tim ekspedisi yang berjumlah 13 orang semua diangkat menjadi anak oleh 13 keluarga. Prosesi pengangkatan dilakuakan dalam pesta pelepasan sebelum kami pulang.
Banyak jenis manik-manik khas Suku Dayak. Jenisnya digolongkan menurut bentuknya maupun bahan utama pembuatnya yang berasal dari batu, plastik, maupun yang lainnya. Setiap manik-manik juga digolongkan sesuai warnanya, karena setiap warna memiliki makna yang dalam dan sakral bagi setiap pemiliknya. Warna yang mencolok juga menjadi ciri bahwa manik tersebut merupakan manik Dayak, ada merah, kuning, hijau, dan biru. Merah bermakna semangat hidup, biru bermakna sumber kekuatan dari segala penjuru yang tidak mudah luntur, kuning bermakna simbol keagungan dan keramat, hijau bermakna intisari alam semesta, serta putih bermakna lambang kesucian iman seseorang kepada sang Pencipta.
Gelang yang diberikan kepada kami didominasi oleh warna kuning. Namun kami tidak mengetahui pasti apa tujuan mereka memberikan warna cerah tersebut, tapi yang pasti kami selalu mengagungkan dan menjadikan keramat untuk kampung Merabu. Jiwa kami telah tertanam di sana, dan kami tidak rela jika ada tangan-tangan yang mengusik kampung tanpa memperhatikan kesejahteraan orang tua kami. Kami juga tahu bahwa dengan dipakaikan gelang dan kalung oleh mereka, kami akan terjaga, terhindar dari gangguan roh jahat yang menginginkan mara bahaya bagi kami.
Ada kebanggan tersendiri ketika menjadi anak mereka. Kami merasa bahwa kami telah menjadi bagian dari Merabu. Kami bisa leluasa berkomunikasi pribadi dengan mereka, layaknya orang tua sendiri. Ada nama baik yang harus dijaga, bukan sebagai beban, namun justru menjadi kewajiban yang menyenangkan. Pengangkatan tersebut juga menandakan bahwa Merabu telah terbuka untuk kami, kapanpun kami datang sama artinya kami pulang, dan rumah pertama yang akan dituju pastilah orangtua di kampung tersebut.
Di waktu yang tersisa, kami menyempatkan diri untuk sekedar menyambangi rumah orang tua kami. Tujuannya agar lebih bisa terkenang kisahnya, kami bisa memandang wajah mereka dengan jelas, sehingga kami tahu bagaimana tepatnya garis wajah yang terlukis di sana. Lalu waktu tersebutlah yang kami manfaatkan untuk berpamitan. Kebaikan hati warga Merabu memang tidak pernah terukur, baru semalam kami menjadi anak mereka namun mereka sudah sangat menganggap kami seperti anak mereka yang keluar dari rahimhya. Segala perbekalan kami dapatkan, wejangan kehidupan telah kami genggam, satu lagi yang tak kalah mencirikan bahwa kami adalah anak dari kampung Merabu adalah dibekalinya kami dengan beberapa botol madu hutan asli khas Merabu.
Beberapa hal yang kami pelajari dalam keluarga mereka adalah adanya kenyamanan untuk selalu tinggal berssama. Sebagian besar warga tidak pergi dari rumahnya untuk meninggalkan keluarga. Pekerjaan yang dilakukan seluruhnya ada di kampung mereka. Siang hari mereka bekerja, malam tetap bisa berkumpul, bercengkrama dengan anak-anak membuat rasa lelah orangtua akan hilang. Di hari Minggu, mereka bersama-sama berjalan menuju gereja untuk beribadah.

twitter : @viedela_ve

Kamis, 12 Februari 2015

Pempek Jembatan Ampera

Hari ini begitu panas aku rasakan. Tak seperti hari-hari kemarin saat aku berada di kota empek-empek. Kota yang menyimpan banyak tempat wisata menarik tersebut tak sengaja menarik seluruh jiwa dan ragaku ke sana. Mau tidak mau aku harus meluangkan waktu untuk menyelesaikan sebuah misi rahasia di sana.

Beruntunglah aku karena misi tersebut datang pada saat ujian akhir semester tiga pada perkuliahanku di Institut Pertanian Bogor telah usai. Langsung saja aku bersiap untuk berangkat ke kota Palembang. Sebelum itu terlebih dahulu aku menuju ke Jakarta untuk memperjelas misi yang harus ku selesaikan. Esok harinya aku tancap gas, walaupun pak supir yang menginjak gas bus nya menuju ke pelabuhan Merak. Aku sengaja tidak menunggangi pesawat untuk menuju ke kota tujuan. Bukan karena takut setelah kecelakaan Air Asia, namun karena uangku pas-pasan. Dengan uang lima puluh ribu rupiah aku diantarkaan bus kota sampai pelabuhan Merak. Barulah sesamainya di sana aku menyebrangi lautan dengan kapal yang harga tiketnya adalah lima belas ribu rupiah untuk  sampa di pelabuhan Bakauheni. Saat kapal menepi, mulailah pemuda-pemuda ini beraksi, para penumpang melemparkan koin kepada mereka. Itulah cara mereka mendapatkan uang, sungguh membahayakan, tapi mereka seperti tak memiliki rasa takut.


Di bakauheni aku memilih beberapa bus yang bisa mengantrkanku ke terminal Rajabasa. Sore itu aku sengaja menuju ke rumah kos temanku terlebih dahulu, karena perjalanan ke Palembang masih jauh. Bus tersebut berpenumpang sangat paat, dan sialnya teryata bus yang ku naiki tidak memiliki fasilitas AC. Pantas saja harganya murah, hanya dengan Rp25.000 aku sampai di terminal Rajabasa.

Semalam istirahat di Lampung, aku pun melanjutkan perjalanan ke Palembang di pagi harinya. Kala itu sedikit melakukan kesalahan teknis. Harusnya aku memesan tiket kereta pagi dari stasiun tanjung karang menuju Palembang yang harganya Rp30.000, namun hal itu tidak ku lakukan. Hasilnya adalah aku harus menggunakan bus kembali, yang tentunya dengan harga yang lebih mahal, yaitu Rp125.000.  selama 12 jam perjalananku melewati lintas timur Sumatera dengan jalan yang berkelok, naik turun, dan seringkali berlubang membuat badanku serasa remuk berkeping-keping.

Tempat yang pertama aku tuju adalah sekertariat Mapatri Universitas Tridinanti, karena tidak ada tempat lain untuk ku beristirahat. Sepuasnya aku beristirahat semalaman di sana. seperti biasa, namanya saja Palembang, aku selalu di suguhi empek-empek, jajanan yang tidak pernah membuatku bosan. Pada malam hari berikutnya aku diajak berkeliling kota Palembang nan berwarna itu. Kami mengelilingi jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, Monpera, dan gelora Sriwijaya. Betapa bahagianya kami, sehingga beban misi yang kubawa agak terasa ringan.

Hadiah Termanis dari Kota Empek-Empek




Gunung Dempo, salah satu wisata pendakian yang terkenal di Palembang selain Serelo dan bukit Jempol. Kali ini dempo menjadi hadiah awal tahun untukku. Keindahan pemandangannya membuat aku tertarik. Apalagi dengan kawah gunung Merapinya yang seringkali berganti warna mulai dari abu-abu, biru, dan hijau.

Kebetulan saat itu ada beberapa nama yang sudah mempersiapkan diri untuk mendaki bersamaku, namun karena beberapa hal yang tidak bisa diganggu gugat akhirya aku melakukan pendakian ditemani dengan Tio, anggota Mapal Sky Prabumulih dan Buduk anggota Mapatri Palembang yang akan menyusul tim Mapatri lain yang sudah berada di kampung IV. Kami berangkat dari sekertariat Mapatri.

Untuk menuju gunung dengan ketinggian 3159 MDPL tersebut, terlebih dahulu kami harus menuju pagaralaam, menggunakan bus dengan tiket seharga Rp60.000 kami sampai di sana dengan waktu maksimal 9 jam. Pukul satu dini hari pada tanggal 18 Januari kami sampai. Rumah pertama yang harus dituju adalah Ayah Anton yang berada di Kampung I. Karena di sanalah pendaki harus mengisi daftar pendakian. Maka sediakanlah fotokopi KTP atau tanda pengenal lainnya seperti SIM dan Kartu Anggota. Biasanya untuk anggota kelompok mahasiswa pencinta alam, perlu menggunakan surat jalan dengan persetujuan ketua umumnya. Serta tidak lupa uang Rp5.000 kepada Ayah Anton.
Sampi di basecamp Ayah Anton, kami mandi, tujuannya adalah membiasakan diri dengan kedinginan, agar badan tidak terlalu kaget. Setelah mandi tentu saja mnghangatkan diri kembali dengan segelas kopi dan bercanda dengan pendaki lain. Tak lama kemudian Ayah Anton menemui kami dan obrolannya semakin seru, karena beliau yang sangat lucu sehingga kami puas tertawa.
Rencana memulai pendakian menuju kampung IV pada pukul 07.00 wib akhirnya gagal, karena kami baru terbangun pada pukul 10.00. Dengan gerakan cepat kami mulai packing dan berpamitan kepada keluarga Ayah Anton untuk berangkat. Namun sebelum berangkat kami terlebih dahulu mengisi perut di kantin. Rata-rata penghuni daerah kampung I ini adalah orang Jawa, sehingga masakan yang kami makan di pagi itu sangat kental dengan rasa jawanya, yaitu manis gurih.

Siang itu juga kami langsung menuju ke kampung IV. Perjalanan kami ditemani bukit-bukit yang penuh daun teh milik PTPN. Memang segar sih semuanya hijau, membuat mata kami terbuka lebar, namun lama kelamaan kami merasa bosan dengan pemandangan yang sama. Kami berjalan sangat santai, banyak istirahat, karena perjaanan ini adalah awal yang kami jadikan pemanasan.

Udara dingin yang awalnya menembus kulit berubah mejadi cucuran keringat di pori-pori kulit kami. Namun akhirnya lelah kami berakhir. 3 jam perjalanan yang kami tempuh cukup untuk membuat kami kepanasan. Pukul 15.00 wib kami sampai di resort, tempat yang biasa digunakan untuk mendirikan tenda. Di sana sudah ada beberapa tenda yang berdiri, yaitu dari Mapatri dan Alfedya.