Minggu, 05 Juni 2016

Selamat Datang (lagi) Ramadhan - 1437 H

Segelas es teh dengan gelas berkeringat menemaniku pagi ini. menghilangkan dahaga selepas mencuci pakaian yang hampir penuh dua ember itu. Tiap tegukan kurasakan manis menyegarkan, seperti air surga rasanya. Sekarang sudah tanggal 30 Sya’ban 1437 H, artinya besok memasuki bulan Ramadhan. Yeay, bulan yang selalu ditunggu umat muslim. Di bulan penuh rahmat itulah amat banyak penghapusan dosa dengan mudah.
Kali ini ijinkan aku mengingat masa laluku pada bulan-bulan Ramadhan sebelumnya. Aku diajarkan puasa oleh Bundaku ketika usiaku memasuki tahun ke-4. Namanya juga anak-anak, belajar berpuasa mulai dari setangah hari dulu, baru kemudian bisa sampai Maghrib. Justru saat itu aku merasa puasaku lebih mulia, halangan puasaku hanyalah lapar dan haus. Tak seperti sekarang sudah memasuki dewasa, halangan puasanya adalah nafsu yang lain, emosi yang susah dikontrol, apalagi kalau udah ngumpul sama temen-temen bawaannya kurang kalau tidak ngegosip. Kembali lahi ke masa kecilku, saat usiaku memasuki 5 tahun puasaku mulai penuh karena aku sudah mengenal sebuah hadiah berupa baju lebaran. Semakin banyak puasa semakin banyak pula baju lebaran yang dibelikan untukku.
Usiaku menginjak 6 tahun, aku sudah masuk SD. Setiap Ramadhan pihak sekolah memberikan buku saku khusus Ramadahan untuk mencatat amal yang kita perbuat seperti shalat, baca al-qur’an, dan mengunjungi/mendengarkan pengajian. Sekarang baru aku mikir, kenapa kita harus repot mencatat sendiri padahal malaikat sudah ditugasli oleh Allah untuk mencatat apapun yang kita lakukan. Ternyata buku saku yang diberikan bu guru sengaja untuk membuat kita lebih rajin dan termotivasi, karena biasanya anak-anak selalu ingin berlomba dalam hal kebaikan. Melihat temannya sudah mengaji sampai surat tertentu, pasti kita ingin segera menyusulnya. Tak seperti sekarang yang lebih sering malu kalau terlihat melakukan kebaikan oleh orang lain.
Saat belum baligh, aku selalu bersemangat untuk mengikuti setiap tarawih. Walaupun kadang milih-milih, kalau imamnya terkenal lama dalam membaca doa maka lebih baik pindah ke masjid/mushola lain yang kira-kira lebih cepat selesai. Tak jarang membawa jajanan untuk camilan kalau bosen mendengarkan ceramah di sela  tarawih. Pulang tarawih tak lupa main petak umpet dengan teman-teman. Belum banyak lampu apalagi telpon genggam seperti sekarang yang membuat ingin cepat pulang setelah tarawih karena khawatir ada gebetan yang mengirim pesan atau menelepon.
Sahur adalah saat yang menyenangkan, karena kita bisa menonton acara yang aku lupa apa namanya, yang ku ingat pasti adalah jargonnya “tut tut gujes gujes” bersama Eko Patrio. Jargon itulah yang membuat mataku mau terbuka. Itulah saatnya aku bermanja-manja, mau makan kalau disuapin, di atas kasur dengan selimut yang masih melapisi tubuhku. Tapi tak lama ketika suara sirine dari masjid berbunyi menandakan imsak tinggal beberapa menit lagi, kakiku langsung ngibrit lari ke belakang untuk minum air putih yang banyak berharap siang tidak kehausan. Tapi apa daya, setelah pulang dari masjid justru ingin selalu buang air kecil, jadi beser. Setiap setelah shalat subuh pasti imam memberikan kuliah subuh terlebih dahulu. Mau tak mau aku bersama teman-teman setia mendengarkan sembari sedikit mencatat isinya di buku saku Ramadhan yang kami miliki. Imam akan memparaf buku saku kami setelah kuliah subuh selesai. Tak selesai sampai di situ, pulang dari masjid kami biasanya jalan sehat dulu mengelilingi kampung. Tak jarang pula kami sedikit bercanda dan berlari kejar-kejaran. Tawa kami masih polos dan ikhlas tanpa paksaan. Kami tidak harus terburu-buru pulang untuk mandi dan berangkat sekolah, karena sekolahan memberi keringanan berupa jadwal masuk kelas yang lebih siang 1-2 jam dari biasanya saat Ramadhan. Selain itu bapak dan ibu guru jarang memeberikan PR untuk kami ketika Ramadhan. Nikmatnya.
dok 1 Syawal 1437 H
Tak kalah serunya dari sahur, justru waktu inilah yang sangat ditunggu tiap hari ketika Ramadhan. Yak, maghrib, saatnya berbuka puasa. Kami banyak melakukan sesuatu untuk menyambut saat berbuka itu. Seringkali kami jalan-jalan entah di sawah atau di sekitar kampung saja. Jalan kaki maupun mengayuh sepeda tak masalah bagi kami. Tak jarang juga kami banyak jajan untuk berta’jil, yang biasanya justru tak habis dimakan. Namanya saja orang lapar, pasti hanya laper mata. Cendol yang biasanya terlihat biasa saja seolah menjadi amat menggoda di sore hari menjelang maghrib, mau tak mau aku membelinya. Kadang aku juga membantu bundaku menyiapkan hidangan untuk berbuka, tapi tetap sama aku menginginkan beragam jenis makanan, bundaku menuruti untuk membeli bahannya, kami memasaknya bersama. Saat berbuka tiba ternyata semua itu tak habis dimakan. Sekali lagi, laper mata. Makanan yang paling aku sukai dan menjadi ciri khas saat Ramadhan adalah kolak pisang dengan gula merah sebagai pemanisnya. Hmm, kan jadi ngiler siang bolong.
Sepuluh hari sebelum lebaran tiba merupakan agenda wajib bagiku untuk melakukan iktikaf dengan nenek dan kakek. Merekalah yang mengajarkanku caranya mendapatkan pahala yang banyak walaupun sampai sekarang aku tak tahu bagaimana wujud sebuah pahala. Setiap malam ganjil dalam 10 hari menjelang lebaran kami berdiam dalam gelap di sebuah masjid. Shalat dan berdoa kepada Allah untuk sebuah kebaikan, apapun yang aku mau aku lontarkan pada-Nya. Sekarang aku malu, karena untuk shalat wajibpun tak jarang  masih terlewat. Sungguh aku merindukan cara melewati dan menikmati Ramadhan seperti masa kecilku.
Mari kita saling memaafkan mengosongkan dendam sesama untuk menyambut datangnya Ramadhan 1437 H. Semoga kita semua bisa mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya dan menghapus dosa hingga sebersih-bersihnya. Marhaban Ya Ramadhan.

Twitter       : @viedela_ve
IG                 : ViedelaAK

Phone        : 085742283163

Jumat, 22 April 2016

Senja di Pulau Dewata

Biarkan aku sedikit mengenang pulau indah penuh pesona di siang bolong. Saat ini aku sedang menikmati secangkir kopi pahit lengkap dengan beberapa batang rokok.
Pura Uluwatu

Oke, berawal dari sebuah obrolan singkat mengenai liburan, aku dengan temanku DIJ. kami adalah muda-mudi yang gila jalan-jalan. Perjalanan kali ini berbeda dari biasanya, karna kali ini kami berdua (sejujurnya aku tak pernah melakukan ini dan lebih suka melakukan solo travelling). Seperti burung yang di masa migrasi, kesana kemari mengepakan sayap dan singgah di suatu sarang dengan pemandangan yang cantik di depannya. Awalnya naik gunung adalah tujuan kami, karena naik gunung merupakan sebagian dari hobi yang tidak bisa kami hilangkan. Bahkan pertemuan pertama kami ya di gunung kala itu. Namun setelah pertimbangan yang panjang dari alternatif yang banyak, kami pun memutuskan untuk berlibur ke Bali, Pulau Dewata dengan kecantikan alam, kekayaan budaya, maupun kota yang hampir serupa dengan Jakarta, macet dan panas.

Jogja-Banyuwangi
Perjalanan dimulai dari Bogor. Kami memilih menggunakan transportasi darat demi menghemat biaya dan memboroskan waktu. Setidaknya kami bisa menikmati perjalanan lebih lama biar berasa capeknya. Sehingga dari commuterline, kereta antar kota, bus, angkot, hingga kapal veri penyebrangan dapat kami rasakan. Aku rasa tak usah jauh bercerita tentang waktu dan harga untuk sampai Bali dan kembali lagi ke Bogor ya.

Kami meluangkan waktu selama 11 hari untuk liburan, terhitung hanya seminggu waktu kita bermain-main setelah dikurangi dengan lamanya perjalanannya. Banyak sekali perdebatan selama mata sama-sama terbuka. Mengenai lokasi tujuan, penginapan, makan, dan rokok yang pasti. Kami benar merasakan bahwa manajemen perjalanan memang sangat penting. Selamat datang di Bali, hmm kali ke berapa ya aku ke sana, namun rasanya tak jauh berbeda, ramai wisatawan lokal maupun asing berkeliaran dan pribumi menjajakan dagangannya. Miris sih sebenarnya. Kute adalah tempat wajib dan mungkin menjadi pilihan terakhir kami di hari pertama ada di Bali, karena penginapan kami di area dekat Kute. Pantai Kute dan Legian menjadi tempat kami menikmati matahari tenggelam di sore pertama di Bali. Paling tidak kami tak terlalu capek untuk pergi jauh, karena perjalanan kami juga baru saja sangat jauh untuk sampai di kota yang dikelilingi laut itu.

Oke menuju hari ke dua. Masih bersemangat dan lagi-lagi kami ke pantai. Berjemur di Pantai Pandawa sejak mentari tepat di atas kepala hingga sore  sembari menikmati beberapa kelapa muda dan beberapa bungkus rokok. Yay ini lokasi berhasil membuat kulitku melegam, gosong, love it much! Eksotisme kulit ini kami bawa ke pantai ke dua di hari itu. Yak setelah puas menikmati dan mengambil beberapa gambar di Pantai Pandawa itu kami lanjutkan ke salah satu pantai dekat sana. *lupa nama pantainya.
Ngemper di Pantai Pandawa
Menuju tenggelamnya mentari di pantai yang lupa namanya




Kami duduk di atas pasir putih menikmati ombak-ombak kecil yang bergulung bergiliran. Obrolan kala itu sungguh tidak jelas, tapi seneng, bawaannya mau ketawa aja. Matahari mulai tenggelam nampak di sebelah kanan kami. Kemilau jingganya menyorot hingga bola mataku. Kami menyipit dan tak tau membayangkan hal apa hingga kami saling berpandang dan makin ngakak. Betapa indah ciptaan-Nya.  Hari itu ditutup dengan makan ayam goreng di warung lamongan pinggiran jalan. Oh ya, dijamin halal. Mas penjualnya orang Jawa Timur looh.

"Mentari datanglah kembali esok hari untukku"


Pantai Legian

Rabu, 30 Maret 2016

Godaan Biji Kopi Serasa Coklat Semanis Ceri

Tanah ini subur. Indonesia aku mencintaimu, sungguh mencintaimu. Alam dan segala isimu. Salah satunya adalah si biji kopi yang berwarna coklat menggoda. Sejak lama aku tertarik dengan kopi. Rasanya sejak usia 2 tahun aku sudah dicekokin kopi, katanya agar tidak mudah terserang penyakit jantung, maka setiap hari waktu aku balita, 1-2 sendok kopi masu ke dalam tubuhku. Hal itu mungkin membuat aku ketergantungan dengan kopi, karena memang semua orang di rumah tinggalku doyan minum kopi. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah aku selalu ngopi walaupun hanya seseruput dua seruput. Teman-temanku selalu membawa bekal sebotol susu atau teh manis, aku cukup minum kopi sebelum beraktivitas di pagi hari, tidak perlu lagi menenteng botol minum. Kebiasaan itu terbawa hingga SMA. Bedanya adalah saat SMA aku harus membuat sendiri secangkir kopi di pagi dan malam hari, karena saat itu aku harus tinggal terpisah dengan orang tua, artinya aku ngekos. Hal itu juga yang membuatku menemukan takaran kopi yang cocok untukku. Kopi hitam dengan sepucuk sendok atau sama sekali tanpa gula.
Pertengahan tahun 2013 aku merantau ke Bogor, di sini banyak tempat ngopi asik. Mulai dari kedai kopi di pinggir jalan yang menawarkan jenis kopi alakadarnya seperti kopi sachetan dan harga terjangkau hingga cafe dengan beragam jenis kopi nusantara maupun mancanegara yang harganya sama bahkan lebih tinggi dari pada uang jajanku dua hari. Kalaupun tidak terbeli kopi mahal itu, setidaknya aku sering kali minum kopi nusantara oleh-oleh beberapa teman yang bepergian ke pelosok negeri yang indah ini, Indonesia. Sama sepertiku yang selalu mencari kopi dalam setiap perjalanan (walaupun jarang jalan-jalan juga), karena menurutku biji kopi itu selalu menggoda mata, hati, dan pikiranku. Yak, Indonesia sangat kaya akan kopinya, dari ujung Sabang hingga ujung Merauke, buah kopi yang diasilkan memiliki cita rasa sendiri, itu unik. Mau pilih kopi dengan kadar asam yang tinggi atau rendah, kopi dengan aroma buah-buahan atau cokelat, dan lain sebagainya. Aku sendiri belum teralu memahami karakteristik kopi dari setiap daerah, yang pasti aku menyukai bentuk dan rasanya, warnanya yang cokelat dan bentuknya lunik. Mempelajari segala hal tentang kopi merupakan salah satu impianku. Maka dari itu aku saat ini memilih bekerja di sebuah cafe, ‘Cafeeiro Coffee’. Cafe ini berada di Jalan RE. Martadinata No. 3A, Bogor. Hari ini 29 Maret 2016 adalah hari pertama aku bekerja di cafe yang baru saja dibuka pada Januari 2016 itu.
Bukan tanpa alasan aku meminum kopi setiap hari, bahkan bisa 3 kali sehari melebihi jumlah kali makan pokok yang kadang hanya sekali sehari. Bukan juga hanya untuk pamer, sekedar gengsi, atau mencari tempat yang ada ‘wifi’nya. Aku merasa segar dan lebih fokus dalam melakukan segala hal setelah ngopi di pagi hari. Banyak ide yang muncul (walaupun kadang tidak tersampaikan dengan baik) ketika aku ngopi di malam hari. Secangkir kopi selalu menjadi teman asikku, saat sendiri, berdua, maupun dalam keramaian. Tidak peduli bentuk cangkirnya (di gelas plastik pun nikmat), aku selalu suka kopinya. Dialah yang selalu menenangkan ketika aku marah, menyemangati saat lelah, dan memberi kehangatan saat dingin. Dimanapun, di kosan, kampus, rumah nenek, dan di gunung akan terasa lebih asik setelah ngopi. Kopi adalah salah satu hal yang pantang tak terbawa saat aku naik gunung (karena naik gunung adalah salah satu hobiku).
Aku tak menyangka, hanya dalam waktu 6 jam (17.00-23.00 WIB) aku telah banyak belajar. Mulai dari jenis minuman yang berbahan dasar kopi, membedakan rasa setiap minuman olahan dari kopi, krieria kopi yang bagus untuk digunakan agar hasilnya maksimal, alat untuk membuat minuman tersebut, cara menggunakan, dan membersihkannya. Hari ini aku minum 3 gelas espresso dengan jenis yang berbeda, segelas capucino yang lebut dan gurih, serta segelas kopi Toraja dengan proses manual blowing. Inilah salah satu hari yang tak akan terlupakan olehku. Seharian bersama kopi, aku tak mau lepas untuk hari esok dengannya. Aku menyisihkan beberapa gram ampas kopi sisa pembuatan espresso untuk kubawa pulang ke kosan, aku ingin mencoba menggunakannya untuk masker wajah, kita lihat apa yang terjadi besok.
“Maybe coffee has become my boy, I can't life without a cup of coffee in the morning”
IG             : ViedelaAK
Twitter      : @viedela_ve
Email        : veviedelaak@gmail.com

Kamis, 24 Maret 2016

Bulan Kelabu (Kehilangan Nenek dari Kampung Merabu)

Bulan malam ini begitu terang keemasan, namun aku sedang bersedih, hatiku kelabu. Malam ini aku kangen banget sama Kampung Merabu yang pernah aku kunjungi pada Juli 2014 yang lalu bersama saudara-saudaraku di Lawalata IPB. Di Kampung Merabu kami diajarkan untuk selalu bersemangat, berdamai, dan untuk menyadari bahwa kami harus melakukan sesuatu untuk bertahan hidup, sesuai dengan jalan yang benar.
Saat itu aku dipertemukan dengan sosok nenek yang menghargai sebuah kehidupan, sangat menghargai lingkungannya. Aku tidak bisa melupakannya. Dia adalah mama dari wanita tangguh bernama Marja Yanti. Sebelum itu aku bertemu lebih dulu dengan Mba Mar (sebutan bagi Marja Yanti). Aku yakin dibalik sosok Mba Mar, pasti ada orang tuanya yang pasti sangat mengasihi dengan penuh cinta dan mengajarkan cara terbaiknya untuk mencintai sesama dan semesta. Hal itu terbukti ketik aku bertemu nenek.
“Nenek lagi ngapain?”, tanyaku waktu itu kepada nenek. Aku kaget dengan jawabannya yang sederhana namun ngena banget di hati dan pikiranku saat itu “Lagi bersih-bersih, begini saja nenek kalau sore, kalau sekitar rumah bersih pasti nyaman dan enak dilihat.”, jawabnya sembari menyibakkan sapunya di lantai tanah samping rumah. Dia memberi makan bebek disela menyapu.
Hari ini kami berduka, semalam dia telah berpulang kepada pangkuan Tuhan. Sangat menyesal, ketika saat itu aku tak belajar banyak padanya. Aku tak banyak menghabiskan waktu dengannya. Namun dirinya selalu terkenang dalam benakku. Kelembutan, keramahan, senyum, dan hangatnya kasih sayang yang ku rasakan ketika terakhir memeluknya, saat itu adalah hari terakhhir kami berada di Kampung Merabu, mengingat pengambilan data dalam rangkaian Ekspedisi Tanah Borneo telah selesai.

Aku teringat pada foto nenek, di sedang menabuh alat musik untuk menghibur kami saat pesta pelepasan kami di balai Kampung Merabu. Berkolaborasi dengan ibu-ibu lain yang juga memainkan alat musik lain, serta dibarengi dengan tarian khas Dayak Lebo. Seandainya masih ada waktu untukku bertemu dengan nenek, aku ingin mendekap erat dirinya, bercerita tentaang kampungnya yang asri, dan belajar menabuh kepadanya. Seandainya aku masih bisa bertemu dengannya, aku ingin memberikan sehelai selendang kepadanya agar dia selalu mengenangku.
Tak tau lagi apa yang harus ku ungkapkan untuk mewakili kesedihanku. Walaupun jauh, nenek selalu berada di dekat kami. Selamat jalan nenek, bahagia di sorga ya nek, aku harap kita dapat bertemu di sana. Mungkin Tuhan lebih menyayangimu, Ia ingin nenek berada di sisi-Nya. Keluarga Kampung Merabu dan kami yang ditinggalkan senantiasa mendoakan

Senin, 14 September 2015

Kuliah? Liburan aja!

Masih bisu, masih tak dapat melihat apapun. Aku masih merenung dalam lamunanku. Beberapa waktu lalu aku menikmati liburan kuliahku yang mencapai 2 bulan. Aku mengunjungi tempat disela-sela kesibukanku mengasuh anak budheku. Walaupun hanya ‘mengasuh anak’ tapi membuatku kelelahan. Dari hal tersebut aku memahami bagaimana seorang ibu rela remuk badan untuk selalu menjaga anaknya. Rela bangun pagi untuk mengucapkan “selamat pagi malaikat kecil”. Dan pastinya rela mati untuk melihat anaknya menikmati dunia yang sungguh terang dan luas ini, yang pastinya belum pernah kurasakan.


Tempat yang pertama kali aku kunjungi adalah Slamet. Ya, aku merayakan ulang tahunku yang ke-20 tahun di puncak nan megah itu. Aku rasa bisa dilihat di ceritaku http://veviedelaak.blogspot.co.id/2015/09/kado-dari-puncak-tertinggi-jawa-tengah.html . Dieng adalah tempat menarik yang kerap dikunjungi wisatawan lokal hingga asing setiap liburan mapun hari kerja. Sebagian wilayah Dieng masuk ke dalam Kabupaten Wonosobo dan sebagian lainnya Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah. Liburan ini aku sempat mengunjungi dataran tinggi nan dingin itu 2 kali. Untuk pertama kalinya aku mengantar teman seperjuangan di kampung halaman untuk mendaki Gunung Prau yang sedang menjadi destinasi yang ramai akhir-akhir ini.


Ada beberapa pendapat mengapa tempat itu menjadi terkenal, salah satunya adalah karena viewnya yang menarik yang terdapat pada kemasan air mineral ternama di Indonesia. Tak heran memang, karena ketika mendaki gunung tersebut kita merasa seperti berada di bukit ‘teletubbies’ orang menyebutnya. Apalagi suasana di puncaknya yang membuat kita merasaka seperti ada di negeri di atas awan, diselimuti udara dingin yang kadang mencapai minus saat musim kemarau. Selain itu, untuk mendaki gunung ini aksesnya sangat mudah, hanya membayar beberapa ribu rupiah untuk retribusi dan jalur yang aman (pendek dan landai) untuk pemula yang tidak terbiasa naik gunung.

Untuk cerita mendaki Gunung Prau  ini sudah pernah aku ceritakan walaupun pada waktu dan orang yang berbeda, tapi ceritanya tidak terlalu beda. Satu hal yang membedakan hanyalah suasananya yang lebih ramai karena kita mendaki di saat libur lebaran. Oh ya satu lagi, ini adalah kali pertamaku mengajak adikku mendaki gunung. Semoga saja dia tidak ketagihan.


Kedua kalinya aku ke Dieng adalah bersama saudara baikku, tepatnya om dan tante kecilku. Kami ke sana untuk melihat esta lampion yang telah beberapa tahun rutin diadakan di Dieng sebagai simbol penutupan Dieng Culture Festival. Sesuatu yang penting terjadi saat itu, saat tanteku muntah di dalam mobil karena memang jalanan menuju Dieng sangat berliku dan naik turun. Kami sempat merasa bosan saat itu, dan kami mencoba menghibur diri dengan ngopi diiringi musik disko bervolume kencang dari dalam mobil kami. hampir semalaman kami nongkrong di Candi Arjuna sembari menunggu jalanan bisa dilewati, saat itu kemacetan di sana melebihi Jakarta di kala orang-orang kantor mulai pulang kerja.

Siang hari setelah merayakan pesta lampion di Dieng aku memutuskan untuk ikut om ku pulang ke Bogor. Ngomong-ngomong aku kangen juga dengan suasana kota tempatku kuliah, walaupun kuliah masih lama dimulai. Nyatanya hanya 3 hari aku di Kota Hujan rasanya sudah bosan. Aku mengumpulkan beberapa lembar uang yang kemudian kugunakan untuk membeli tiket kereta ke Cilacap. Kebetulan ada teman lama yang mengajakku untuk ikut tour vespa (lagi) ke Pangandaran. Tidak mungkin aku tolak, itu adalah salah satu hobikku yang pernah juga aku ceritakan.

Jumat, 11 September 2015

Kado dari Puncak Tertinggi Jawa Tengah

Usia bukanlah hal yang paling berpengaruh terhadap kedewasaan seseorang. Banyak orang tua yang bersikap seperti anak kecil, mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan dengan matang hal-hal yang berpengaruh. Banyak juga para mudawan yang sudah bisa berfikir dewasa dalam menentukan masa depan maupun mengambil kebijakan. Hari itu aku berfikir tentang usiaku yang semakin bertambah. Adikku pernah bilang “Usia tuh hanya angka kak, kakak bisa menjadi dewasa sebelum usia kakak semakin mena.”

Aku sempat merancang untuk merayakan ulang tahunku yang ke 1/5 abad ini dengan matang. Aku ingin pergi ke suatu tempat yang menawan, bermain di Segara Anak di Gunung Rinjani. Nyatanya aku harus menerima kenyataan kalau Tuhan memilihkan tempat lain yang tentunya lebih baik. Telah lama aku ingin mendaki gunung nan gagah yang biasa ku lihat sepanjang perjalanan di Kota Tegal, yaitu Gunung Slamet. Pasir yang terlihat keabu-abuan dari kejauhan menggodaku, seakan-akan berbisik “Sini, main bersamaku.”

Aku membuat rencana ulang untuk mendaki Gunung Slamet, ada beberapa teman yang bersedaia menemani perjalanan istimewaku kali ini. Mereka adalah Kholik (UPL Unsoed), Tio (Sky Prabumulih), Galang (Lawalata IPB), dan Lukman (Lawalata IPB). Kami bersepakat untuk bertemu di Purwokerto, tepatnya di sekretariat UPL Unsoed, sebelum selanjutnya kami memualai petualangan ini.

Banyak hal yang kita persiapkan untuk perjalanan 3 hari. Manajemen perjalanan yang sehari-hari kami pelajari kita terapkan kembali di sini. Aku tidak akann menceritakan tentang hal itu kali ini. Kita memilih untuk melewati jalur Baturaden, karena ini jalur yang paling dekat dengan posisi kita saat itu, selain perijinannya yang lebih mudah. Aku selalu mengambil posisi di

Selasa, 08 September 2015

Studi Lapangan Kecil nan Pnjang di awal 2015 part 2

masih ingat cerita Studi Lapangan Kecil nan Panjang di awal 2015? lihat kembali http://veviedelaak.blogspot.com/2015/05/studi-lapangan-kecil-nan-pnjang-di-awal.html.

Tanggal 1 Februari kami melanjutkan perjalanan ke Kasepuhan Adat Ciptagelar . seperti biasa sebelum berjalan, terlebih dahulu materi navigasi darat diterapkan, tentunya agar jalur yang akan dilewati benar-benar tepat. Hanya 2 jam perjalanan melewati jalur tanah yang licin dan banyak pohon tumbang kami pun sampai pada kampung tujuan. Melihat pemandangan yang menawan dari atas kampung membuat kami lega, karena sebentar lagi kami akan beristirahat dan pastinya akan ketemu Abah Ugi.

Gambar 4 Kasrizal, Ariya, Akbar, Ve (ki-ka) begaya dalam perjalanan menuju Kasepuhan Adat Ciptagelar
Sesampainya di sana kami langsung bersih-bersih karena badan kami yang basah dan penuh lumpur. Kami merinding, kulitpun mengeriput karena air di kampung ini terasa sangat dingin. Teh hangat adalah minuman ampuh yang dapat meningkatkan suhu tubuh kami. Bersisir-sisir pisang terhidang di depan kami, dan racikan kopi berhasil membuat mata kami liar meliriknya. Dengan gelas-gelas kaca kami dipersilahkan untuk menyeduhnya sendiri, karena kebiasaan warga kampung agar pengunjung merasa berada di rumah senidiri. Dan prasmanan makan sore siap menyambangi perut kami yang rasanya permukaan dalam usus telah saling menempel.

Sambil santai, kami berbincang dengan warga dan menikmatisejuknya kampung adat ini. Kasepuhan Adat Ciptagelar memiliki pranata sosial yang menurut Kang Yoyo berjalan lebih teratur daripada negara kita ini. Dengan beberapa rorokan yang ada, kampung ini sangat teratur. Setiap rorokan yang diibaratkan seperti menteri di suatu negara memiliki fokus pekerjaan tersendiri. Untuk mengkajinya, kami membagi MPCA ke setiap rumah rorokan. Tiap rumah rorokan dibagi ke setiap 2 orang MPCA. Kajian yang dilakukan tidak terpaku pada hal yang dilakukan rorokan yang ditinggali. Mereka bebas akan mencaritahu tentang hal yang membuat mereka tertarik. Waktu satu malam dirasa kurang, namun kami harus melaksanakan rencana kegiatan yang telah dirancang.

Cerita tentang leuit, kesenian, kerajinan tangan, upacara adat, dan lainnya cukup membuat kami penasaran untuk kembali lagi di waktu berikutnya agar bisa mempelajari lebih dalam tentang Kasepuhan Ciptagelar ini.
Gambar 5 Deretan Leuit yang menjadi salah satu kekhasan dari Kasepuhan Adat Ciptagelar