Rabu, 30 Mei 2018

From Garden to Table





We have known about the principle of primary and secondary needs since primary school. The primary human needs are food, boards, and clothing. It is repeated by our teacher many times when teaching. Food (then interpreted food and drink) is never separated from humans. But do we really understand the origin of the food we use it? It should be a big concern for us. This time I understand why the food is a staple. Without eating we can’t do anything.






Busy activity often makes us unable to control body needs. Working demands sometimes make us leave breakfast because we have to arrive at the office in the morning, also we need to counting the traffic travel happen, so we must leave even before sunrise. The rest time given by the office is not too long, so we choose fast food to get back to work on time. We also often use the time after work to eat at the restaurant, the reason is because we are already tired if we have to cooking by ourself.




Indeed we must pay close attention to everything that goes into the body, especially food. This is important because it has both short and long-term effects. Often we just realize it if we've ever experienced bad things in our body, such as illness until we need to be treated and sacrifice the time to take off absent.

Selasa, 29 Mei 2018

Sehat dengan Tepung Lokal

Kebutuhan gandum di Indonesia tergolong tinggi tinggi. Kebutuhan terbesar berada pada industri terigu. Permintaan produk mie dan roti sebagai makanan manusia, serta kebutuhan pakan ternak menjadi penyebabnya. Selain itu masyarakat Indonesia juga gemar sekali mengkonsumsi gorengan yang berbahan dasar terigu. Terigu dipilih karena rasanya yang gurih serta kemudahan untuk mendapatkan di warung-warung kecil.
Namun sayangnya gandum yang digunakan merupakan hasil impor. Gandum tersebut berasal dari antara lain dari Australia, Ukraina, Kanada, Amerika Serikat, Bulgaria, Moldova, Urugai, Rusia, dan lainnya. Tingkat impor gandum selalu meningkat. Asosiasi Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) mengungkapkan bahwa pada tahun 2017 volume impor gandum mengalami kenaikan 9% dari tahun sebelumnya menjadi 11.48 juta ton. Nilainya juga meningkat 9.9% dari tahun sebelumnya menjadi US$2.65 miliar. "Indonesia sekarang sudah menjadi negara pengimpor gandum terbesar di dunia, melampaui Mesir," kata Dwi Andreas Santoso sebagai guru besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) pada Maret 2018.
Pada kenyataannya, Indonesia memiliki sumber daya lain untuk menggantikan gandum sebagai bahan dasar terigu/ tepung. Kita memiliki singkong, ganyong, beras, pisang, garut, kacang hijau, kacang merah, kacang kedelai, dan berbagai macam bahan lainnya. Kemudian jika dikombinasikan dengan komposisi tertentu akan menghasilkan rasa dan tekstur yang mirip dengan tepung berbahan dasar gandum.

Senin, 28 Mei 2018

Sticky Friendship

The sticky rice is a type of seeds that looks like rice (which we used to be Indonesian main food/ rice). Physical appearance can usually be distinguished from its colour. Rice looks more transparent while sticky rice has a milky white colour. Sticky rice can live in Asia, including Indonesia. But Indonesian people prefer to plant rice because rice is still considered more basic than the sticky rice, although the price of sticky rice is higher than rice. In addition, sticky rice cultivation is also relatively more difficult.
Sticky rice can be processed into various products, especially food. Indonesia has various types of snacks made from sticky rice. The serving of sticky rice into a sweet food is often chosen by people in Java. For example onde-onde, lemper, klepon, cenil, wajik, and many more. Each region has its own name and characteristics in processing it.
Martani with HMPPI

Minggu, 22 April 2018

Hari Bumi 2018


Bumi adalah satu-satunya planet di dunia yang dapat ditinggali oleh manusia. Hal itu berkaitan dengan ketersediaan oksigen, air, dan beberapa materi lain yang mendukung kelangsungan hidup manusia. Namun belakangan ini bumi sedang mengalami berbagai ancaman. Beberapa ancaman tersebut disebabkan karena kegiatan manusia.

Salah satu yang manusia lakukan adalah memproduksi sampah yang berlebihan. Samakin hari sampah semakin banyak. Selain memproduksi, manusia juga malas untuk mengelola sampah yang dihasilkan. Sehingga berujung menjadi berserakan di seluruh tempat. Seringkali ditemukan sampah yang menggantung di atas pohon, sampah yang tertumpuk di atas tanah hingga terpendam di dalam tanah tersebut, di pinggiran trotoar yang dapat mengganggu para pejalan kaki, sampah di selokan, di sungai, hingga sampah yang terdampar hingga di tengah laut.

Sabtu, 14 April 2018

Mereka Adalah Teman


Waktu bersama mereka selalu terasa cepat. Walaupun awalnya aku memang tidak pernah merasa cocok dengan mereka. Anak kecil yang bawel, banyak bertanya, suka bikin jengkel, dan segala macamnya ada dalam diri mereka. Maklum saja, mereka masih banyak ingin tahu.
Aku memang tidak pernah memikirkan untuk menjadi guru ataupun tenaga pendidik lainnya. Walaupun ibuku sangat menginginkan aku menajdi guru, mengikuti jejaknya. “Mba, jadi guru itu banyak pahalanya. Semakin banyak kamu membagi ilmu maka ilmu kamu juga semakin bertambah”, katanya. Aku tetap pada pendirianku, maunya sih punya pekerjaan sendiri, menanam kek, mengolah sesuatu kek, atau apapun itu.

Takdir berkata lain, aku dikirim ke pulau yang nun jauh dari tempat tinggalku. Ya, Sulawesi, utara lagi. Pernah sih kepikiran untuk ke sini, tapi dalam rangka liburan. Ke Bunaken kek, ke Bogani Nani kek, atau tempat lainnya yang memang terkenal keindahan di sini. Tapi Tuhan menuntunku untuk menjadi seorang edukator, tenaga pendidik yang tidak pernah terfikirkan olehku.
Ini bukanlah hal yang mudah bagiku. Pertama, aku tidak suka dengan anak-anak. Kedua, karena ini sangat menyimpang dari banyak mata kuliahku di kampus yang pada dasarnya belajar mengenai ekonomi. Akuntansi lah, sumberdaya manusia lah, manajemen proyek lah, atau manajemen pemasaran. Oke ini adalah jawaban bahwa dunia tidak sesempit itu. Menjadi seorang edukator tidak harus lulus dari jurusan pendidikan, menjadi banker tidak harus seorang sarjana ekonomi, konservasionis juga tidak harus lulusan dari fakultas kehutanan.
Banyak hal yang harus aku pelajari di sini. Awam sih engga, karena dulu untungnya pas kuliah aktif di organisasi pecinta alam. Enak kan tinggal improvisasi agar bisa ngomong sama anak-anak. Dasarnya sudah dapet. Ngomongin hutan? Tahu sih walaupun sedikit. Ngomongin laut? Ya paling ngga dulu kalo snorkeling suka nanya-nanya apa sih terumbu karang? Kenapa harus ada itu terumbu karang? Dan lain-lain. Ngomongin burung? Ya dulu suka pengamatan burung sama senior, walaupun bebal banget untuk ngapalin nama ilmiah, lidah suka keclitut. Kalo ngomongin pertanian, ya sedikit tau dong, kan almamaternya pertanian dan dulu suka menanam singkong di samping sekretariat.

Senin, 04 September 2017

Pak Nahtim kenek nelayan Tasikmalaya


Pagi ini cuaca bersahabat dengan tim salam kaoem nelayan dan nelayan itu sendiri di Kampung Pamayang Sari, Desa Cikaung Ading, Tasikmalaya. Panasnya tidak terlalu terik namun menghangatkan, angin sepoy menghembus hingga ke pelabuhan. Di pinggir pelabuhan Pamayang Sari, Pak Nahtim (52) sedang beristirahat selepas melaut. Dia berangkat tadi jam 4 pagi dan baru sampai pelabuhan lagi jam 9 pagi. Dia mengeneki perahu milik orang lain. Ketika dapat ikan hasilnya dijual dan dia dapat 20% bersih setelah dikurangi untuk beli bensin. Sebesar 70% menjadi jatah pemilik perahu dan 10% bagi pengangkut hasil ke TPI.  Mereka punya hari libur melaut, yaitu hari Jumat. Karena mereka percaya ketika ada yang melaut hari Jumat pasti akan celaka. "Sering ada yang mati di laut hari Jumat dulu sebelum kami sadari."

Senin, 10 Juli 2017

Bagiku Ramadahan dan Lebaran

Aku sudah tinggal di Bogor sejak kurang lebih 4 tahun lalu. Bogor seru, walaupun tak selamanaya menyenangkan. Setidaaknya di sana aku bias dapet banyak teman baru dengan jenis yang berbeda-beda. Selama 4 tahun itu aku menjaring ilmu di sebuah universitas negeri yang katanya kampus rakyat, ya Institut Pertanian Bogor (IPB). Artinya ini adalah tahun terakhir menjadi mahasiswa di tingkat sarjana. Sudah berbulan-bulan saat itu aku mulai menyusun tugas akhir. Banyak rintangan tentunya, mulai dari dosen yang susah ditemui hingga perusahaan calon objek penelitian yang susah dilobi. Selama 5 bulan gonta ganti proposal dan ku ajukan ke perusahaan ini itu tak kunjung diterima, yang ada mereka menolak dan mendiamkan permohonanku. Sempat mikir buat ganti judul, tapi berujung pada “Ah belum rejekinya, nanti juga dapet”
Selama 10 hari pertama Ramadhan merupakan berkah luar biasa bagiku, karena ada satu hari yang mana ada perusahaan yang menerimaku untuk melakukan penelitian di sana, sebut saja PT. X. Walaupun teman yang lain sudah menyandang gelar sarjana dibelakang namanya dan aku baru akan memulai penelitian, tapi aku yakin ada jalan-Nya yang sudah diatur untuk kebaikanku. Ya itu semua kehendak-Nya, diterimanya aku di sini adalah jalan-Nya yang diturunkan kepada seorang alumni IPB untuk membantuku. Ga usaha banyak mikir dua hari kemudian berusaha untuk mendapatkan tiket pesawat. PT. X berada di Samarinda, Kalimantan Timur. Setelah membeli tiket ternyata salah satu manajer di sana menghubungiku dan meberi kabar bahwa aku di sana bisa tinggal di mes nya agar tidak perlu menyewa tempat tinggal, terlebih aku diberi akses ke kantin agar tidak perlu membeli makan sendiri. Ini namanya 10 hari pertama Ramadhan yang sungguh berkahnya turun kepada para hambaNya.  
Hari-hari selama penelitianku di sana terasa menyenangkan. Banyak teman baru yang profesional dan memberikan kemudahan mendapatkan data menjadi salah satu faktor kesenangkanku. Taman-teman se kantor sangat baik dan ramah, segala sesuatu yang ku tanyakan dijawabnaya dengan detail. Setelah satu pekan terlewati aku mencoba untuk menyegarkan diri pergi beribur ke kota. Maklum karena PT. X berada di kampung, jarak ke kota lumayan jauh dan dapat ditempuh selama kurang lebih 1 jam.
Akhir pekan saat itu mengalahkan akhir akhir pekan selama 5 bulan yang lalu yang rasanya sangat biasa saja. Baru aku tau rasanya bahwa akhir pekan memang ditunggu oleh para pekerja kantoran. Tak mau rugi aku pergi berkeliling kota bersama seorang kawan yang baru ku kenal, namanya Mba Rahma dan Mba Nuy yang hobinya jalan-jalan. Kami mengunjungi sebuah masjid tertua di Samarinda. Di sana selalu digelar buka bersama dengan takjil seadanya. Masjidnya tidak terlalu luas, paling cukup untuk shalat sejumlah kurang lebih 300 orang.
Pemandangan dari Bukit Steling
Anak-anak kecil bersemangat menunggu waktu iftar datang, beberapa ibu-ibu membagikan bubur yang dilengkapi dengan telur rebus serta minuman berupa susu dan air putih. “Semuanya kebagian, sabar ya”, ucap salah satu orang. Ya memang mereka selalu menyediakan takjil tersebut dengan dana dari beberapa pihak.
Masjid Shiratal Mustaqiem

Setelah makan dan shalat, kami berkelilng masjid mencari hal yang unik, yaitu masjid itu sendiri yang dilengkapi dengan menara setinggi kurang lebih 15 meter yang membuat masjid berama Shiratal Mustaqiem itu semakin gagah dan hidup karena lampu-lampu terangnya. Kami tak mau kehilangan momen untuk mengambil gambarnya, bagiku untuk kenang-kenangan, kapan lagi aku bisa ke sana.

Puncak Bukit Steling
Malam minggu kami lewati untuk sekedar bersantai di pinggir sungai tepat di belakang Big Mall. Karena ketika aku diajak ke mall kok tiba-tiba mual. Hehehe. Nongkrong sambil menikmati kerupuk amplang khas Samarinda dan anginnya yang sepoy itu menjadikan badan kembali rileks setelah seminggu mengerjakan laopran tugas akhir. Ngobrol sana sini, pengalamanku dan pengalaman teman-teman baruku itu. Ternyata perjalananku belum seberapa dibanding dengan mereka. Akhirnya malam itu kami akhiri untuk menyambut hari esok yang menyenangkan.

Menuju Kampung Tenun
Hari Minggu datang, akhir dari akhir pekan adalah waktu yang berharga. Pagi itu kami bangun dengan semangat, langsung mandi dan bersiap. Kami pergi ke sebuah bukit bernama Bukit Steling, letaknya tak jauh dari rumah Mba Rahma. Cukup 10 menit menggunakan sepeda motor kemudian mendaki deh. Pagi menuju siang begini mendaki rasanya berat sekali, apalagi dalam keadaan berpuasa. Namun setelah kurng lebih 20 menit mencoba mengayunkan kaki untuk naik akhirnya sampailah kami di puncak bukit itu. Pemandangan dari atas sana rasanya membuat mata melek lagi. Sungai Mahakam yang luas dan rumah penduduk yang padat, serta aktivitas lain yang terlihat dari atas sana mengobati rasa haus selama perjalanan. Kami berfikir seandainya di sana menjadi sebuah tempat wisata yang dikelola dengan baik pastinya akan lebih bagus untuk kita semua terutama penduduk di sekitar yang mendapatkan manfaatnya.

Tak puas hanya mendaki bukit saja. Kami melanjutkan perjalanan untuk menyeberangi Sungai Mahakam menuju ke Kampung Tenun. Hanya cukup mengeluarkan uang sejumlah Rp.5.000 saja kami bisa sampai di sana. Berkeliling di Kampung Tenun biasa dilakukan para wisatawan lokal maupun mancanegara. Sekedar melihat-lihat proses pembuatakn sarung tenun tak menjadi masalah bagi warga sana. Hampir setiap rumah memiliki alat untuk menenun sarung. Setelah selesai bisa dikumpulkan ke pengepul barus selanjutnya dijual ke konsumen. Harga sarung tenun berkisar dengan harga paling murah adalah Rp.300.000 sesuai dengan jumlah kain yang digunakan, kesulitan motif, dan warnanya. Selain sarung tenun, di sana juga menjadi tempat produksi kerajinan manik-manik, seperti kalung, gelang, syal, ikat pinggang, dan lain-lain.
Sarung tenun




Puas berkeliling di sana kami melanjutkan lagi pergi ke puncak menara Islamic Center. Pengunjung dikenakan biaya Rp.15.000 untuk orang dewasa dan Rp.7.500 untuk anak-anak. Harga tersebut tergolong cukup murah untuk melihat pemandangan dari lantai 15.

Proses menenun sarung
Setelah menikmati jalan-jalan, saatnya bertemu dengan kawan-kawan. Aku membuat janji untuk ketemu dengan Kak Miftah (seniorku di organisasi Lawalata IPB) dan Om Suhardi (Alumni Kehutanan IPB). Hanya sekedar canda tawa dan saling menyapa saja sudah cukup untuk mengakhiri puasa hari itu. Malam pun datang, kami (aku, Kak Miftah, dan Mba Rahma) memutuskan pergi nongkrong di sebuah cafe yaitu Lopecafe. Kami nikmati kopi hingga larut malam. Obrolan kami tidak akan ada habisnya jika tidak segera diakhiri. Padahal besok aku harus masuk kantor lagi melanjutkan tugas akhirku.

Islamic Center
Semua itu merupakan berkah Ramadhan yang tak dapat digantikan. Untuk ku Ramadhan itu silaturahmi. Sekarang sudah saatnya 10 hari terakhir sebelum lebaran. Bagiku lebaran itu bertemu orang baru. Aku rela tidak merayakan lebaran di kampung halaman bersama keluarga karena aku pikir nanti aku akan mendapat lebih banyak saudara di sini sembari menyelesaikan tugas akhirku. Sehingga pasca lebaran semoga dengan segera aku mendapat gelar sarjana di belakang namaku agar bias menyusul kawan-kawan yang lain.
Ramadhan dan Lebaran itu bagi kamu?