Senin, 18 Desember 2023

Mengapa Aku Memakai Clodi untuk Anakku?

Aku adalah seorang ibu dari balita berusia hampir 3 tahun.

Saat ini kami tinggal di kampung halamanku, di Kalibening, Banjarnegara, Jawa Tengah. Aku ingin anakku merasakah jebahagiaan yang sama dengan masa kecilku. Masa kecilku dihabiskan untuk bermain di alam. Sawah menjadi lahan berkubang, sungai menjadi tempat berendam, mencari ikan, bersenang-senang dengan teman-teman. Hal itu tidak aku temukan di tempat lain yang aku kunjungi setelah habis masa remajaku. 

Aku pernah tinggal di Bogor, dengan Sungai Ciliwung yang harus menanggung beban sampah dari rumah tangga dan pabrik di sepanjang sungai. Air di sana tidak sejernih, sebening, sesegar air di kampung halamanku. Beberapa kali akut mencoba menyeburkan diri ke Sungai Ciliwung, aku merasakan air yang kotor, bau, dan rasa ketidaknyamanan. Begitu banyak sampah plastik, kaleng, hingga popok bekas. Semoga saja hanya Ciliwung. 

Lalu aku tinggalkan Ciliwung untuk kembali ke sungai masa kecilku. Keputusan untuk mengasuh anak di kampung adalah hal yang benar, tapi harapanku tentang sungai masa kecilku harus terpatahkan. Ternyata dia sudah berubah, sudah hampir menyerupai Ciliwung dengan air yang keruh, banyak sampah ikut mengalir, dan bau menyengat dari popok bekas yang tidak diterima oleh penciumanku. 

"Sungai lebih dari sekedar kemudahan, itu adalah harta karun." yang diungkapkan Oliver Wendell Holmes tidak berlaku lagi sekarang. Tidak ada harta karun, hanya ada keburukan yang kita buang ke sana. 

Kita pasti menginginkan alam yang baik sebagai tempat tinggal kita bersama orang-orang tersayang. Adanya sungai yang buruk saat ini memang bukan hanya ulah kita, ada beberapa generasi sebelumnya yang memulai kebiasaan mengotori sungai. Tapi kita bisa mulai membantu memulihkan sungai kembali agar menjadi seperti sungai masa kecil yang bening, segar, banyak ikannya dengan berbagai cara.

Membangun masa depan tidak hanya tentang menambah keturunan yang baik, tapi juga merawat alam dengan baik untuk tempat hidupnya. Hiduplah seperti pendahulu kita yang bisa melakukan keduanya bersamaan. Semestinya kita bisa kembali memakaikan popok kain kapada anak-anak kita agar mereka tetap terawat dan sungai tetap selamat.

Aku dan We Speak Up ingin mengumpulkan banyak cerita lagi tentang sungai, tentang anak, dan tentang popok. Sehingga aku berharap kamu bisa membantuku untuk mengisi survey ini dan kita sama-sama bergerak untuk memulihkan alam kita. 

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSetK4Ai8XapOTibX0dC3KQGTnYHrZPd-r59LnUe-wxF2wNHdQ/viewform?usp=sf_link 




Kamis, 21 Mei 2020

Singkong Di Atas Tungku

Aku dengan ibu dan adikku menyebut diri sebagai anak singkong. Kami sangat menikmati segala jenis olahan singkong sejak kecil yang entah kapan mulanya. Suatu waktu aku duduk bersama kakek dan nenek, pada saat itu rumah mereka masih mengandalkan tungku dengan kayu bakar sebagai alat bantu memasak. Aku duduk di depan tungku sembari tak henti menyunyah singkong bakar buatan kakek. Mudah saja, singkong tak perlu dikupas langsung peram di dalam abu di bawah bara api, intinya tidak langsung terkena jilatan api untuk menjaga agar daging singkong matang hingga dalam, dia hanya butuh hangatnya abu yang menyelimuti seluruh permukaan. Lagipula singkong yang diperam tidak perlu dibolak-balik sudah pasti dia akan matang merata karena panas abunya melapisi keseluruhan singkong. Tunggu setengah jam atau mungkin sampai satu jam kira-kira, tergantung sebeapa besarnya singkong, makin besar makin lama matangnya. Kakek dengan tangannya yang tebal oleh kapalan itu mengupaskan sebuah untukku, ku makan dulu setengahnya, setengah bagian ditaruh saja di atas tungku agar tetap hangat karena kami tinggal di suatu pegunungan yang suhu udaranya rendah, makanan atau minuman yang dibiarkan begitu saja akan dingin dalam waktu singkat.
Setiap kupasan kulit singkong, kakek bercerita betapa nikmatnya makan singkong pada jaman dia muda. “Hanya dibakar atau direbus, makan dengan ikan asin, sambal terasi udah pasti nambah lagi singkongnya.”, katanya penuh semangat. Seperti kebanyakan keluarga masa kini, beras menjadi makanan pokoknya, tidak puas rasanya jika makan tanpa nasi, belum makan namanya. Singkong menjadi makanan pokoknya pada saat itu. Sekarang dia makan singkong hanya ketika sedang ingin saja, atau ketika dia pergi ke kebun lalu tau ada singkong yang sudah siap diangkat. Dia mengenali dengan jeli mana batang singkong yang punya singkong super di dalam tanagnya. 
Sesekali nenek meminta tolong kepada kakek agar memetik daun singkong jika kakek pergi ke kebun. Daun singkong adalah sayur andalannya, bisa dimasak bening, bisa juga dimasak santan. Nenek lebih sering memasak bening karena takut dengan kolesterol tinggi jika terlalu sering mengkonsumsi santan. Kakek ikut saja, apapun yang tersedia di dapur akan dimakannya dengan penuh gairah hingga keringat meluncur dari dahinya padahal udara di kampung kami kurang dari 25 derajat celcius. Umbi dan daunnya sudah jelas bisa dimakan, batangnya bisa juga dimanfaatkan sebagai kayu bakar atau pagar kebun. Kakek biasanya menancapkan saja batang yang sudah didiamkan tiga sampai tujuh hari dan dipotong pendek-pendek. Tangannya ajaib, batang itu akan tumbuh tidak lama kemudian. Aku percaya, hanya orang-orang terpilih yang tangannya dingin dan bisa menumbuhkan tanaman.
Kini kondisi sudah berubah. Tidak ada lagi tungku di rumah nenek. Kompor gas menjadi pilihan yang lebih simpel. Tidak perlu mencari kayu bakar, tidak perlu mencuci wajan yang hitam berkerak akibat pembakara kayu, tidak perlu membersihkan langit-langit yang berdebu hitam. Harga tabung gas dirasa lebih baik daripada itu semua. Namun ada hal-hal yang tidak tergantikan oleh keberadaan tungku di rumah nenek. Kami tidak lagi duduk di depan tungku setiap pagi dan sore untuk bercerita sembari makan singkong bakar. Cucu kakek yang yang berbeda 10 tahun denganku tidak merasakan hangat dan kasarnya tangan kakek yang mengelus-elus lutut seperti yang dilakukannya padaku dulu dengan lantunan yang khas. Ikatan di depan sebuah tungku hitam itu tidak bisa digantikan dengan kompor gas dua lubang walaupun tungku kakek juga lubangnya dua.
Pernah di suatu sore yang hujan, kakek pulang dari kebun dengan badan yang basah kuyup. Dia minta diambilkan handuk oleh nenek dan segera mandi. Setelah mandi tak lupa sembahyang dulu karena saat itu mungkin pukul 4 sore. Setelah selesai semua, dia membongkar karung yang dibawa dari kebun, isinya beberapa buah singkong. Saat itu aku yang paling kegirangan karena singkongnya yang besar-besar sekali lebih besar dari pahaku dulu. Aku tahu karena kakek menempelkan singkongnya di pahaku lalu berkata “pahamu kecil sekali kalo dibakar ngga enak, lebih enak singkong ini jadi kenyang” sambil tertawa memamerkan gigi-giginya . Nenek menawarkan diri untuk membuat salah satu olahan singkong yang kami sebut krekel dan kakek tentu menyetujuinya, apapun yang terbuat dari singkong menurutnya istimewa. Tak lama kemudian nenek mengupasnya satu per satu dan melanjutkan prosesnya sendiri, aku tetap di depan tungku bersama kakek dan membakar satu buah singkong yang lebih besar dari pahaku tadi.
Selain krekel, banyak jenis makanan yang bisa dibuat dari singkong, misalnya ondol, makanan ringan bulat kecil-kecil sebesar buah ceri. Ada juga cantir atau opak, makanan ringan sejenis kerupuk yang gurih. Lemek, kue basah dari singkong bertekstur lembek dan manis dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus. Atau keripik singkong juga menjadi pilihan menarik untuk camilan yang bisa bertahan lama. Ada juga manggleng yang keras sampai kakek tidak bisa mengunyahnya, sehingga harus diulum dulu hingga lembek. Ngomongin singkong ngga ada habisnya, banyak makanan yang bisa dibuat dari umbi yang satu ini. Semuanya enak, semuanya punya cerita.
Sembari mengupas singkong bakar yang telah matang, dia bercerita mengapa dia tetap menjadi petani hingga sekarang, padahal dia adalah seorang guru yang berstatus PNS. Ternyata bukan hanya kecukupan secara finansial saja yang dicarinya, menjadi guru menjadi bagian dari pengabdiannya terhadap negara, secara singkat dia senang membuat muridnya mau belajar. Menjadi petani adalah pengabdiannya yang lebih tinggi, yaitu terhadap alam semesta, menurutnya merawat tanaman adalah merawat semesta, dan dampaknya tidak hanya untuk keluarga tapi kepada hewan-hewan, tetangga, hingga orang lain yang tidak dikenalnya. Menurutnya menjadi seorang petani juga berkaitan dengan keimanannya yang dia jelaskan panjang lebar.
Kakek tidak pernah melarang maupun memaksa anak cucunya untuk mengikuti jejaknya menjadi seorang petani. Sejak aku kecil, aku seringkali diajak pergi ke sawah maupun ke kebun. Momen itu menjadi penting untukku saat ini, aku baru menyadari bahwa yang dilakukan oleh kakek kepadaku dulu adalah untuk mengenalkan bagaimana manusia bekerja, bagaimana manusia mendapatkan makanan, jadi sekarang aku berusaha agar mengetahui asal dari makanan yang aku makan. Kakek secara tidak sengaja mengawinkan aku dengan alam semesta, dia menyederhanakan apa yang ada dalam pikirannya untuk disampaikan melalui perlakuannya terhadapku. Duduk di depan tungku dengannya mengajarkan juga kesederhananan dan kebahagiaan, dari api yang tidak harus berarti kemarahan, dari hitan yang tidak harus berarti kekelaman, dari putihnya singkong yang tidak berarti kekosongan makna.
Singkong masih menjadi makanan kesukaan di rumah kakek dan nenek saat ini, walaupun tidak ada tungku di dapurnya. Kakek masih rajin pergi ke kebun, dan sesekali pulang membawa singkong. Nenek biasanya mengupasnya lalu direbus atau dikukus, karena tak ada lagi tungku di dapurnya. Singkong kukus atau rebus yang masih hangat beruap dihidangkan dengan piring di ruang tamu. Kini kami melakukan obrolan di ruang tamu, dengan cucu-cucu kakek yang menggemaskan dan olahan singkong di atas meja. Ketika udara sedang dingin, masing-masing orang mengenakan selimutnya yang dibawa dari kamar masing-masing. Tidak ada lagi tangan yang dihadapkan ke lubang depan tungku yang hangat. Tidak ada lagi tungku di dapur rumah kakek. Semuanya berbeda.

Rabu, 13 Mei 2020

Berapa Banyak Upacara di Bali?

Tidak hanya perut sendiri yang dipikirin, hidup di Bali pasti dekat dengan perayaan, artinya harus memberikan sesajian untuk para Dewa juga. Seluruhnya itu berkaitan dengan kepercayan. Kebutuhan itu juga nilainya besar. Setiap hari setiap keluarha harus merogoh kocek untuk membeli canang yang digunakan 3 kali dalam sehari. Bagi mereka yang bisa membuat canang sendiri, biaya yang dikeluarkan lebih sedikit. Namun sayangnya lebih banyak dari mereka yang memilih membeli saja canang untuk ibadah. Sebuah canang berisi 4 warna bunga yang diletakkan sesuai dengan arah mata angin, ditambah dengan irisan pandan, roti, permen, rokok, kopi, maupun teh. Selain itu juga ada jenis sesajian yang isinya hanyalah apa yang dimakan oleh keluarga di hari iru, sehingga persembahannya dilakukan di pagi hari setelah perempuan memasak. Peletakkan sesajian itu setiap keluarga berbeda, sesuai dengan apa yang mereka hormati. Misalnya salah satu tempat penguburan ari-ari anaknya. Namun umumnya adalah sanggah keluarga, kamar besar (kamar pasangan suami istri), dapur, pintu gerbang masuk rumah, alat transportasi/ barang berharga lainnya.
Pada saat itu kebetulan aku berkesempatan mengunjungi malam 3 harian kematian ayah Luh Nia. selanjutnya ada acara 11 harian dan 21 harian. Serupa dengan umat Islam, di sini pun ada acara doa bersama yang diadakan di rumah duka selama 3 malam. Pelantun doa diawali oleh orang dari pura yang terhormat, kemudian disusul bergantian dengan orang lain. Orang silih berganti mungunjungi untuk turut berduka dan mendoakan yang terbaik. Pemilik rumah juga sibuk mempersiapkan persediaan untuk para tamu, minimal minuman. Jika memiliki kemampuan yang berlebih biasanya mereka menyugihkan makanan ringan, makanan berat, hingga alkohol. Keseluruhan rangkaian tersebut membutuhkan biaya yang besar. Sesame keluarga biasanya saling bahu-membahu untuk menanggung beban tersebut. Sehingga terlihat kerjasama yang masih terjaga hingga saat ini.
Selain kematian, penyambutan kehamilan hingga kelahiran juga menjadi hajat yang tidak kalah banyak mengeluarkan uang. Apalagi sebuah pernikahnan, dan banyak lagi upacara yang dilakukan. Selain upacara yang tidak dapat diprediksi itu, ada juga upacara rutin yang harus dilakukan.
Selain itu, obrolan dengan Pak Eka juga menghasilkan kesimpulan bahwa di Bali terdapat enam hari suci yang disebut tumpek atau keselamatan. Pertama, Tumpek Landep yaitu upacara untuk selamatan senjata taja, serperti pada bahasa Bali yaitu landep berarti tajam. Kedua, Tumpek Uye yaitu upacara untuk keselamatan kandang yang mana mereka memberikan keselamatan pada kandang ternak atau binatang peliharaan. Ketiga, Tumpek Wayang yaitu untuk selamatan wayang. Keempat, Tumpek Kuningan yang dilakukan untuk keselamatan gamelan atau alat musik. Kelima, Tumpek Bubuh yaitu selamatan yang dilakukan untuk tumbuhan agar mendapatkan hasil yang berkah untuk kehidupan mereka. Keenam, Tumpek Krulut yang dilakukan untuk selamatan unggas, namun tumpek ini biasa digabungkan dengan Tumpek Uye.
Nyepi adalah salah satu perayaan di Bali yang ditunggu-tunggu. Perayaan ini dilakukan setiap tahun baru Saka. Perayaan ini ditujukan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk menyucikan alam manusia (Bhuana Alit) sebagai microcosmos dan alam semesta (Bhuana Agung) sebagai macrocosmos. Selain umat Hindu dan warga Bali, Nyepi menjadi hal yang unik bagi wistawan. Sebelum nyepi, ada banyak rangkaian upacara adat di Bali, misalnya Melasti yang mana seluruh sarana persembahyangan yang ada di pura diarak ke laut atau danau (air) karena zat itulah sumber kesucian (tirta amerta). Upacara ini dilakukan antara dua hingga 3 hari sebelum nyepi. Kemudian sehari sebelum nyepi dilakukan upacara Buta Yadnya. Inilah yang seringkali ditunggu-tunggu, yaitu mengarak buta ke seluruh desa yang disimbolkan dengan patung raksasa dengan muka menyeramkan. Patung tersebut biasanya dibuat di masing-masing tingkatan masyarakat, misalnya keluarga, banjar, hingga desa. Sebulan bahkan dua bulan sebelum arakan tersebut, warga bergotong-royong membuat patung tersebut, hingga larut malam itu sudah biasa. Kebersamaan dapat terlihat jelas pada prosesnya. Arakan di hari yang ditunggu itu diiringi dengan tabuhan atau pukulan pada benda apa saja, biasanya dengan kentongan dari bambu sehingga menimbulkan suara gaduh yang bertujuan mengusir buta kala. Masyarakat menyebutnya pawai ogoh-ogoh. Setelah selesai diarak, kemudian patung-patung tersebut dibakar karena sebuah kepercayaan bahwa setelah diarak keliling desa, Buta Kala dan segala keburukan/ kejahatan masuk ke patung tersebut yang harus dimusnahkan.
Selesai semua perayaan itu, masuklah Hari Raya Nyepi di keesokan harinya. Hari tersebut seluruh Bali sama sekali harus beristirahat, tidak ada kendaraan bermotor yang berlalu lalang, tidak ada aktivitas jual beli, bahkan menyalakan api juga merupakan larangan sehingga masyarakat biasanya mempersiapkan makanan di hari sebelum nyepi karena tentunya proses memasak memerlukan api. Beberapa daerah memiliki aturan yang lebih ketat seperti mematikan aliran listrik dan koneksi internet. Beberapa orang memaknai nyepi secara dalam hingga melakukan puasa, tidak makan atau minum. Mereka yang melakukannya percaya, ketika berpuasa kita dapat berpikit lebih jernih untuk merefleksikan diri apa saja kesalahan yang telah dibuat selama setahun lalu dan membangun lagi mimpi di lembaran baru yang suci setelah nyepi sehingga diharapkan tidak melakukan kesalahan yang sama. Beberapa anak menangis ketika malam hari karena kegelapan tanpa cahaya lampu maupun karena pansa tanpa kipas/ AC. Para ibu dari anak-anak tersebut diuji kesabarannya untuk menenangkan mereka hingga pagi menjelang.

Jumat, 08 Mei 2020

Ujung Timur Indonesia





Jalan Trans Papua Menuju Kampung Tambat
Sebelum sore kami berangkat dari Kota Merauke menuju ke Kampung Tambat yang ada di kecamatan Tanah Miring. Perjalanan kami dengan kendaraan bermotor memakan waktu kurang lebih 1 jam. Melewati jembatan menyeberangi Sungai Maro menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Setelah itu masuklah ke jalan trans dengan padang di sisinya. Saat itu cuaca tidak terprediksi, tiba-tiba gerimis turun. Kami berhenti untuk memakai jas hujan saja, karena tidak ada tempat berteduh. Selain itu kami juga suka mengendarai sepeda motor di bawah rintik hujan. Beberapa saat kemudian gerimis berhenti, kami juga berhenti pada akhirnya untuk melepas jas hujan. Sembari beristirahat di tepi jalan, kami makan rambutan yang kami beli di kota sebelum berangkat. “Ini kitong pu rambutan paling enak sudah se-musantara”, ucap Monic yang gemar sekali dengan buah berambut satu itu.

Masuk Kampung Tambat, Distrik Tanah Miring


Kami mulai memasuki area kampung, jalanan dengan aspal tipis sehingga masih terlihat bebatuannya. Langit di sana cerah, biru, dengan awan yang sesekali bergeser ke sana kemari. “Tidak lama lagi, kitong su mau sampai”, kata Adriana sambil terus memakan rambutan dengan tangah kirinya.



Menokok batang sagu, diawasi Mama Magdalena berbaju biru



Benar saja, di sore yang cerah itu kami segera sampai di pabrik Sagu Dwitrap, Kampung Tambat, Tanah Miring. Ternyata Om Jack, begitu sebutannya seorang ayah berusia kurang lebih 40 tahun dengan nama asli Yakobus, dialah yang kami cari sedang tidak ada di rumah. Om Jack yang mengkoordinir produksi tepung sagu di pabrik Sagu Dwitrap. Kemudian kami menyusulnya ke tepian sungai di ujung kampung tempat dia menunggu potongan pohon sagu yang baru saja dipanen sampai ke kampung. Selain Om Jack, ada juga beberapa orang yang sedang memproses batang sagu yang dipanen di sekitaran sungai tersebut, “ada yang sedang memarut! Ko mo coba kah?”, kata Kak Nurmala, perempuan 30 tahunan dengan rambut panjang terkepang rapih. Gak pakai lama, aku melepas sepatu, bergabung menokok batang sagu dengan Mama Magdalena. Om Jack mengatakan bahwa di tempat itu biasa orang bekerja, bersana-sama di pagi hingga sore hari. Biasanya sebatang pohon dikerjakan bersama oleh anggota keluarga. Anak-anak kecil ikutan berkumpul meramaikan tempat tersebut tentunya tetap asik bermain sembari membantu orangtuanya. Hal yang paling bagi mereka adalah berenang di sungai itu, melompat dari pinggiran jalan membuat mereka terlihat lebih seru. “Besok kitong lihat”, tambahnya.

Potongan batang sagu 1 meter,
diangkut dengan mobil bak terbuka

Om Jack dengan karyawannya langsung cepat saja memotong menjadi per 1 meter batang sagu yang sudah sampai di tepian. Hal itu memudahkan untuk diangkut ke dalam mobil bak terbuka menuju ke pabrik Sagu Dwitrap, juga lebih mudah diproses selanjutnya. Sesampainya di depan pabrik Sagu Dwitrap, dibongkar saja di pinggiran agar tidak menghalangi jalan. “Besok kitong kupas dan belah, su sore kitong istirahat dulu.”, ungkap salah satu karyawan Om Jack sembari menurunkan potongan sagu.


Mengangkut batang sagu yang sudah dibelah ke pabrik


Istri Om Jack ikut membantu dalam proses produksi. Salah satunya dia mengangkut belahan batang sagu ke dalam pabrik. Pekerjaan yang tidak mudah karena beban yang begitu berat di dalam kereta dorongnya. Dia melakukannya dengan senang hati, ketika lelah dia akan berhenti sejenak, “Kalau su minum sa angkat lagi itu barang” katanya. Pekerjaan lain yang dia lakukan juga dalam mengurus anak, menyiapkan bahan makanan untuk para karyawan yang bekerja di Dwitrap, membersihkan rumah, dan tidak jarang berkebun.


Kukis Sagu yang dibuat oleh Nurmala
Malam itu kami menginap di kediaman Om Jack. Tepatnya di sebuah ruangan yang telah dipersiapkan untuk tempat produksi lanjutan, yaitu mengolah tepung sagu menjadi berbagai macam makanan siap santap. Di ruangan itu terdapat banyak alat yang siap digunakan, namun rupanya masih bersegel belum pernah digunakan, ruangan itu belum beroperasi. Om Jack menjelaskan, dirinya belum menemukan orang yang tertarik untuk mengolah sagu menjadi berbagai macam makanan, selain itu juga belum ada tenaga yang berkompeten untuk mengajari masyarakat mengolah tepung sagu. “Kitong suka makan sagu bakar saja, dengan kopi atau teh sudah cukup, tapi sa sendiri punya keinginan membuat berbagai olahan sagu agar sagu terserap dengan baik dan semua orang bisa menikmatinya”

Matahari terbit dari timur
Jalan pagi dengan Tante Tina

Malam berlalu terasa singkat karena kami berbincang hingga larut. Banyak hal yang diceritakan oleh Om Jack dan keluarganya. Ketika pagi menjelang, kami dibangunkan oleh suara burung yang mulai mencari makanan. Aku keluar dari ruang tidur dan melihat langit yang terlalu cantik untuk dilewatkan, fajar yang jingga. Akupun mulai berjalan mengikuti jalan kampung. Tidak lupa ku ajak Tante Tina yang menemani kami dalam perjalanan Kampung Tambat kali ini. Tante Tina adalah bagian dari Kon Muyu. Kami melepas alas kaki dan mulai menikmati aspal tipis sambil berbincang. “Ko pu muka itu bentol semua Ve, ko banyak dapat nyamuk kah semalam?”, tanyanya sambil memperhatikan wajahku. “Sa tidak berasa, mungkin karena kelelahan jadi sa tidur lelap sekali.”, jawabku. Kami bercengkrama layaknya kawan lama yang bertahun-tahun tak bertemu. Nyatanya mereka memang ramah. Mereka sangat terbuka dan menyenangkan, aku paling suka logat mereka yang membuat aku jadi terbawa. “Ko pu logat ni su rupa orang papua bicaranya.”,  Tante Tina mengakhirinya dalam perjalanan pagi itu.

Selasa, 01 Oktober 2019

Mereka Sebut Saya 'Rambu Jawa'

Sumba dari ketinggian
Merupakan bagian dari provinsi Nusa Tenggara Timur, terkenal dengan daerah padang rumput, seribu bukit, dan tanahnya yang berbatu. Sumba Timur memang menggoda untuk dikunjungi. Banyak pengunjung yang menguber matahari terbit maupun matahari tenggelam yang cantik. Menjadikannya objek wisata yang mulai terkenal. Banyak pihak percaya, Sumba akan menjadi serbuan wisatawan seperti Bali nantinya. Kabar tersebut membuat senang sekaligus gelisah. Jika itu benar terjadi, maka perekonomian masyarakat meningkat. Seperti yang terjadi di banyak terjadi di daerah wisata, masyarakat dapat mejual barang maupun jasa. Kehawatiran juga menyusul, barangkali akan banyak para pemilik modal menanamkan investasi di sana, keuntungan pastinya mengalir kepada mereka. Seperti yang terjadi di daerah wisata lainnya juga, masyarakat lokal hanya menjadi buruh sehingga walaupun ada penambahan pendapatan, tetap saja hanya menjadi kroco.
Terlepas dari hal tesebut, saya ingin cerita mengenai perjalanan di Sumba Timur selama sepuluh hari di pertengahan September 2019. Perjalanan kali ini kami sebut PSS 'Perjalanan Singkong Sumba', karena  perjalanan itu terwujud atas dasar obrolan singkong. Aku memang menyukai singkong karena rasanya yang unik, apalagi dia merupakan bahan dasar dari banyak makanan di kampung halamanku. Sehingga aku bisa merasakan kenikmatan dari ubi kayu itu.
Ibu-ibu di Desa Umamanu, Kecamatan Lewa sedang membuat olahan singkong
Seorang teman yang ku kenal setahun lalu menghubungiku “Hai Ve, bagaimana kabar? Masih suka makan singkong?”, ku jawab “Pastinya! Ada apa dengan singkong?”. Obrolan mengenai singkong berlanjut berhari-hari, sehingga pada akhirnya dia mewarkan kepadaku perjalanan Sumba Timur untuk belajar tentang singkong bersama masyarakat. Tanah Sumba Timur memang cocok untuk tanaman umbi-umbian, salah satunya singkong. Namun masyarakat belum banyak memanfaatkannya. Mereka sudah puas dengan singkong rebus sebagai teman minum kopi di pagi hari. Jika perut mereka dirasa sudah tidak mampu lagi menampung singkong, maka akan dibagikan kepada babi dan ternak lainnya. Aku suka cara mereka berbagi, karena menurut mereka, ternak juga harus merasakan apa yang kita rasakan, terutama dalam hal makanan.
Bagi saya, yang paling tidak, pernah merasakan berbagai makanan yang terbuat dari singkong sejak masa kanak-kanak, rasanya sayang sekali jika diresbus saja sudah memuaskan. Ya, perjalanan ini menjadi dilema sebenarnya. Kami ingin membuat masyarakat bisa mengolah pangan lokalnya, singkong itulah tadi. Tapi kami juga khawatir nantinya jika masyarakat sudah bisa mengolah singkong menjadi berbagai macam makanan manusia, bagaimana nasib ternak? Tapi seiring berjalannya waktu, banyaknya diskusi membuat kami menemukan solusi sehingga ternak masih tetap bisa makan walaupun bukan singkong.
Opak singkong yang telah dikukus
Sepuluh hari kami menyusuri beberapa kampung untuk berbagi resep produk olahan singkong. Kami berusaha untuk berbekal pengetahuan dan alat sederhana untuk mengolah singkong. Sehingga kami bisa berbagai beberapa macam olahan seperti keripik singkong, opak, kerupuk combro, biskuit, kue, hingga mie. Mereka menyambut kami hangat. Hal itu ditunjukkan dengan pemberian cium Sumba, yaitu dengan menggesekkan pucuk hidung ke kanan dan ke kiri. Mereka mencoba menerka apa yang akan kami lakukan di sana. "Rambu Jawa" adalah sebutan untuk saya. Pemuda perempuan disebut Rambu, sedangkan laki-laki disebut  Umbu. Saya suka dengan sebutan itu.  Senyum mereka membuat saya bersemangat.  Kami memulainya dengan bercerita mengenai singkong, terutama bagaimana mengolahnya agar makanan bisa bervariasi. Pengolahan singkong adalah hal baru bagi mereka. Kami makan bersama olahan singkong berupa keripik, opak, dan kerupuk combro, mereka menyukainya. Sontak beberapa dari mereka berkata “Oh mudah ya membuatnya, besok saya akan buat dan saya jual”. Lega dan teduh hati saya mendengar ucapan itu. beberapa hari kemudian setelah kami belajar bersama mengolah singkong, saya dan kawan datang lagi untuk belajar lagi mengolah singkong menjadi produk olahan lain. Sebelum mulai belajar, seorang ibu berbisik “Rambu (sebutan untuk anak muda perempuan), saya kemarin sudah membuat keripik, saya bungkus kecil-kecil, dan dijual di sekolahan, habis semua 20 bungkus”. Saya tidak sadar tiba-tiba memeluk dia hingga dia kaget.
Makan Kerupuk Combro
Kami bersemangat bersama-sama untuk menumbuhkan rasa cinta pada bahan pangan lokal. Mimpi sederhana sekaligus luar biasa dari kami adalah membuat semua orang di Sumba bisa manikmati makanan dari tanahnya sendiri. Mimpi itu muncul setelah kami lama tertidur. Banyak produk yang beredar di Sumba Timur sendiri ternyata berasal dari pulau lain. Padahal kami tahu bahwa di banyak bahan pangan di Sumba Timur. Saya sedih, pertama kali datang ke kios kecil di sana, ada anak-anak kecil membeli mie instan kemudian mereka bermain sambil ngemil mie instan tanpa dimasak. Ya, mie instan menjadi jajanan kesukaan mereka. Saya berharap setelah ini jajanan anak-anak beralih ke makanan ringan lokal.
AYO MAKAN SINGKONG!

Sabtu, 02 Maret 2019

Sumber Daya Alam milik siapa?


Sebutan kampung nelayan karena mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai nelayan. Nelayan adalah orang yang mata pencaharian utamanya adalah menangkap ikan, terutama di laut. Sehingga tidak semua kampung pesisir dapat disebut kampung nelayan. Desa Les memiliki 9 banjar (dusun) yang beberapa diantaranya berada di pesisir dan mayroritas masyarakatnya adalah nelayan. Salah satunya adalah Banjar Penyumbahan, berada paling selatan desa dan berdampingan dengan laut. Banyak perahu  bersandar di pantai yang berbatu, kira-kira 70 perahu, salah satunya adalah milik Pak Cik, seorang nelayan yang telah melaut sejak muda.
Namun selain melaut, dulu dia pernah bekerja di sebuah perusahaan pengekspor karang yang sekarang sudah ditutup karena regulasi yang melarang penjualan karang. Dia juga pernah menjadi penangkap ikan hias yang saat ini sudah tidak lagi karena tidak ada tengkulak lagi yang menampung tangkapan ikan hias. Selain itu penangkapan ikan hias dengan cara yang tidak ramah lingkungan seperti menggunakan potassium sudah dilarang dan beriringan dengan kesadaran masayarakat itu sendiri.
Saat ini Pak Cik mengerjakan banyak hal seain melaut, contohnya adalah sebagai pmelihara sapi. Sapi itu adalah milik orang lain yang dititipkan kepada keluarga Pak Cik untuk merawatnya, kemudian akan dijual dalam jangka waktu tertentu atau sesuai dengan keinginan pemilik modal, namun biasanya minimal 6 bulan baru bisa dijual. Mereka memiliki sistem tersendiri dalam mengatur pembagian hasil yang harus sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Pekerjaan seperti ini banyak dilakukan oleh masyarakat penyumbahan sebagai pendapatan sampingan selain melaut.
Prosesnya adalah pemilik modal menyerahkan uang kepada pemeliraha untuk dibelikan anakan sapi. Anakan sapi dipilih sendiri oleh pemelihara, karena biasanya mereka yang tahu bibit unggul yang sehat dan lebih cepat tumbuh, karena ini berpengaruh juga dengan pendapatan mereka nantinya. Sistem yang Pak Cik pakai adalah 30% keuntungan untuk pemelihara, dan 70% untuk pemilik modal. Disamping itu Pak Cik juga mmemelihara babi miliknya sendiri. dia memilih babi karena perawatannya yang mudah dan permintaannya  banyak. dia bisa menjual babi kapan saja dia mau. Istrinya juga membantu dalam pekerjaan ini, seperti menyiapkan makanan untuk hewan-hewan ternaknya. Terutama ketika Pak Cik sedang pergi untuk bekerja di tempat lain seperti menjadi guide untuk diving dan snorkeling, atau sesekali menjadi buruh bangunan.
Istri Pak Cik merawat anaknya sepanang hari, sembari merawat kebun kopi milik orang lain. Hal yang dilakukan adalah memanen buah cokelat setiap pekan. Setelah panen dia harus mengupas dan menyimpannya dulu di dalam karung tertutut selama 2-3 hari agar air keluar dengan sendirinya sehingga proses penjemuran nantiya tidak teralu lama. Jika itu diilakukan maka penjemuran di bawah matahari ketika musim kemarau hanya membutuhkan waktu 2-3 hari. Selain lebih cepat dalam pengeringan, menyimpan biji cokelat dalam karung juga membuat biji kerig lebih awet dan bagus. Karena proses penjemuran yang tidak terlalu lama sehingga paparan matahari dan bakteri di biji cokelat tidak terlalu banyak. Pekerjaan merawat kebun cokelat akhirnya harus dilakukan setiap hari karena pohon yang dipanen berbeda-beda. Pemelihara memiliki hak 30% dari penjualan biji cokelat kering, sisanya untuk pemilik lahan. Harga biji cokelat kering saat ini berkisar antara Rp.25.000 sampai Rp.30.000 per kg. Dia menjualnya ke tengkulak yang seringkali datang atau diantarkan sendiri ke tengkulak jika hasilnyasudah menumpuk. Karena jika tidak langsung dijual maka akan cepat rusak dengan penyimpanan sederhana. Keluarga Pak Cik menghasilkan kurang lebih 30 kg per bulan.
Kepemilikan lahan sampai saat ini belum merata. Ketimpangan terjadi dimana-mana dan terlihat sangat jelas. Hal ini membuat petani kecil kurang berdaya. Kemudian seringkali msayarakat desa terusir ke tempat yang lebih jauh dari lahan pertanian, misalnyake daerah urban perkotaan. Mereka menjadi buruh di perusahaan-perusahaan milik konglongmerat. Selanjutnya mereka diperlalukan sama, tidak mendapatkan hak yang layak/ setimpal dengan apa yang dikerjakan. Atau mereka terusir ke daerah terpencil dengan sumberdaya yang terbatas sehingga harus bekerja lebih keras untuk menghidupi kehidupannya, misalnya di hutan pedalaman yang kemudian harus membuka hutan terlebih dahulu untuk dijadikan lahan pertanian. Namun setelah itu turunlah kebijakan pemerintah yang membatasi gerak masyarakat bahkan hanya untuk mencari makan sehari-hari karena alasan konservasi. Banyak lagi hal yang mungkin terjadi dengan melihat kasus ini. Itu semua adalah dampak dari lambatnya pemerintah dalam menjalankan Reforma Agraria. Semakin lama maka masyarakat kecil yang persentasenya jauh lebih tinggi akan semakin terhimpit dan tidak berdaya sedangkan masyrakat kelas atas saling berebut kekuasaan.


Canang Bu Cening


Perempuan baginya adalah seseorang yang dikodratkan sebagai pendaming bagi lelaki. Hal itu ditunjukkan dengan ucapannya ketika perbincangan hangat mengenai peran dalam keluarga. Dia adalah isteri Pak Eka, seorang nelayan yang sekaligus menjadi tokoh dalam pembentukan kelompok masyarakat di Desa Les untuk pembangunan desa yang lebih baik. Bu Cening mengatakan bahwa dulu ketika musim cumi setiap pagi dia pergi ke pantai untuk menjemput suaminya yang telah semalaman melaut. dia harus bangun pagi-pagi sekali untuk memulai hari. paling tidak sebelum pergi ke pantai dia sudah menyiapkan air panas untuk membuat minuman hangat sebagai pelengkap sarapan. Ini adalah hal yang wajar dilihat setiap pagi di Pantai Penyumbahan, Desa Les. Para isteri menjemput dan membantu suaminya seperti mengaitkan tali penahan perahu, memasang papan dan kayu yang berbentuk tabung untuk memudahkan perahu naik ke daratan ketika ditarik, hingga membereskan isi perahu seperti hasil tangkapan ikan dan sisa bekal makanan para suami. Semua itu ditata rapih, tampat makan, jas hujan, pancing, jarring, atau alat lainnya agar mudah diambil ketika akan digunakan lagi.
Setelah itu dia akan  memisahkaan  ikan hasil tangkapan, yang mana akan dijual dan yang mana akan dikonsumsi sendiri atau sekedar dibagikan kepada kerabat yang saat itu tidak melaut. Kegiatan itu selesai hingga ikan sampai di tangan pembeli. Biasanya ada pemborong yang siap menampung hasil tangkapan nelayan dengan menerapkan syarat tertentu. Misalnya kebijakan peminjaman dana, peminjaman bahan bakar, penentuan harga, dan lain-lain.
Bu Cening dan isteri nelayan lainnya kembali ke rumah untuk menyiapkan sarapan suaminya, lalu masak, sampai bersih-bersih rumah. Seringkali pekerjaan itu dilakukan dalam waktu yang sama agar dapat selesai lebih cepat.  Terutama bagi mereka yang memiliki target waktu karena dikejar pekerjaan lain di luar tanggung jawab rumah.
Memasak baginya adalah hal yang wajib bisa dilakukan oleh perempuan. Karena perempuanlah yang mengurus seberapa banyak pengeluaran dapur untuk membantu suaminya mengatur rumah tangga. Karena makanan merupakan kebutuhan pokok yang harus ada setiap hari. Maka jika tidak memasak pastinya sebuah keluarga harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli masakan yang siap santap. Memasak sendiri di rumah adalah jawaban yang tepat untuk memperkecil pengeluaran rumah tangga. Pengeluaran rumah tangga yang lain masih terlalu banyak untuk dihitung dan bisa jadi tidak dapat terpenuhi jika dari dapur saja perlu banyak pengeluaran.
Selain itu rutinitas setiap pagi yang wajib dilakukan adalah sembahyang. Setelah selesai memasak, dia menyiapkan sesajen dari segala sesuatu yang keluarganya makan. Ini dapat diartikan sebagai ucapan terimakasih kepada Tuhan atas segala kenikmatan, keselamatan, dan kehidupan yang telah diberikan hingga saat itu juga. Setiap orang memiliki tempat ibadah yang berbeda, misalnya tempat penguburan ari-ari anak, sudut, ruangan tertentu, tempat tertentu yang menandakan suatu kejadian, pintu, dan lain-lain, kecuali pura keluarga yang harus diberikan sesajen oleh seluruh anggota keuarga itu sendiri.
Sembahyang selesai bukan berarti seluruh kegiatan selesai juga. Seperti Bu Cening, dan bisa jadi beberapa isteri nelayan lain melakukan hal ini, yaitu membuat canang. Bu Cening memilih membantu suaminya untuk menghidupi kehidupan dengan cara menjadi penyedia canang, banyak pedagang kecil datang ke rumahnya untuk mengambil canang dan dijual kembali. Tangannya lihai, memotong, menyusun, dan menghias canang dengan cantik. Canang digunakan untuk alat sembahyang setiap penganut Hindu sehingga selalu ada permintaan setiap hari. seharusnya seluruh perempuan Bali terutama penganut Hindu harus bisa membuat canang sendiri karena merupakan kebutuhan harian untuk sembahyang, namun karena kesibukan lain biasanya mereka memilih membeli saja agar dapat melakukan pekerjaan lain,. Pekerjaan membuat canang  ini dilakukan Bu Cening dengan senang hati. Seringkali dia dibantu oleh menantunya ketika pesanan sedang banyak, terutama di waktu tilem atau pertengahan bulan kalender Bali. Kadang juga dihibur oleh kedua cucu perempuannya yang lucu, walaupun seringkali justru menghambat pekerjaan tapi dia terlihat senang.
Inilah saatnya istirahat di pertengahan siang. Hal ini bagus untuk menjaga kestabilan daya tahan tubuh setelah pekerjaan yang berat sejak matahari belum terbit. Dia mengajak cucu pertamanya tidur siang bersama. Setelah itu bangun dan menyuapinya. Dia megasuh cucu pertamanya yang bernama Astrini setiap hari karena ditinggal kerja oleh ibunya pada pukul 9 pagi hingga 5 sore. Usianya dibawah 5 tahun dan sedang banyak bergerak membuat neneknya harus mengawasinya extra agar tetap selamat dan senang.
Baginya laut adalah sumber kehidupan, karena bisa membuat suami dan anak-anaknya mendapatkan penghasilan dari sana. Walaupun suaminya saat ini jarang melaut karena sudah memiliki pekerjaan lain, namun slogan itu masih tetap sama, karena pekerjaan lain suaminya itu juga banyak berhubungan dengan laut.