Rabu, 24 Juni 2015

Apakah kamu telur? kentang? atau biji kopi?

Diantara burung yang terbang di langit
Hanya satu yang nampak gagah mengepakkan sayapnya
Dia sangat menikmati angin yang menabrak wajahnya
Paruhnya kecil namun kakinya terlihat kokoh
Matahari terbenam memantulkan cahayanya ke bulu sang burung
Biru kehitaman menegaskan bahwa ia memang menarik

Tak lama kemudian ia bertengger ke pepohonan yang telah rapuh
Matanya seolah sedang mencari suatu hal
Kanan, kiri, agak menyerong, dan semua sudut ia jelajahi dengan matanya
Sayangnya ia tak dapat memutar lehernyaa untuk melihat ke belakang
Wajahnya yang riang berubah memurung, entah apa yang ia pikirkan

Seekor burung cantik dengan kaki yang pincang diam-diam mengintai
Ia berdiri mengintip dari kejauhan belakang si Biru
Si pincang tak mengerti bagaimana mengungkapkan keinginannya
Yang ia tahu hanyalah mencintainya dari kejauhan
Tidak memikirkan si Biru yang sedang mencari apa yang dicari

Diam dan menunggu, hanya itu yang dilakukan si Pincang
Namun ia tetap berusaha menutupi kelemahannya
Ia tak pernah sedikitpun mengeluh untuk selalu sendiri
Si Biru terus berkelana melukis kisahnya di langit
Sedkiti demi sedikit ia mengumpulkan ranting dan dedaunan

Tak ada yang menyangka matanya yang menjelajah waktu itu
Ya, itu ia lakukan untuk mencari singgasana yang nyaman sebagai rumahnya
Diam-diam si Biru juga telah lama mengintai si Pincang
Niat tulusnya adalah merajut kasih dengan burung berbulu kemerahan itu
Menggendongnya untuk tinggal bersama dalam satu sarang

Mereka saling mencintai sepenuh hati
Langit menjadi kesukaan mereka
Hidup bahagia selamanya
Selama masih ada langit
Dan sarang yang nyaman di bulunya

Twitter : @viedela_ve
IG : veviedelaak
Email : veviedelaak@gmail.com
Phone : 085742283163

Selasa, 16 Juni 2015

Cahaya Bunda

Dialah yang selalu heran dengan segala perbuatanku. bermain dengan saudara kaleng tua (vespa), bercengkrama dengan kucing buluk, fokus dengan ponsel genggamku, kebiasaan susah mandi, dan sebagainya. Nampaknya dia mulai terbiasa dengan kekonyolan yang kuperbuat. Kekonyolan terbaru adalah mengajaknya untuk mendaki sebuah bukit. Ya, kua ajak dirinya untuk sejenak menikmati keindahan-Nya di sebuah bukit bernama Sikunir. Akhir-akhir ini Sikunir yang terletak di Dieng, Jawa Tengah menjadi trend pembicaraan para pemburu keidahan.

Dia selalu memuji keindahan itu dari beberapa lembar foto yang sering kuperlihatkan padanya. "Daripada hanya melihat di foto saja mending kita lihat langsung.". Tidak kusangka dia menyetujuinya. Oke waktunya bernagkat. Kebetulan ada satu kawanku yang juga ingin pergi ke sana, namanya Cepot. Lucu ya? Ya memang mukanya mirip wayang golek berwajah merah asli Tanah Sunda itu loh, bedanya Cepot yang ini mukanya coklat sawo hampir busuk. Oh ya hampir lupa, aku juga mengajak teman kecilku bernama Dasir orang ngapak yang gaya bicaranya selalu membuat orang tertawa.

Menunggu Cepot di Pertigaan Dieng

Kembali ke topik. Aku, bunda, dan Dasir berangkat dari rumah di siang hari, keadaan saat itu hujan lebat. Apakah ini pertanda buruk? Kami berjanjian dengan Cepot di pertigaan depan terminal Dieng.

Ujikesabaran pertama adalah menunggu selama berjam-jam. sampai ngantuk, lapar, dan sedikit-sedikit muncul prasangka buruk. Beda dengan Bunda yang dengan sabar untuk berprasangka baik. Beda juga dengan Dasir yang selalu bertanya "Dia sampe mana?"



Waktu menjawab pertanyaan kami, Cepot datang dengan muka tak berdosa. Yasudah lanjut saja untuk langsung ke tempat tujuan. Jalanan berkelok dengan lubang jalanan yang tidak beraturan membuat Bunda agak merasa ngeri. Dataran tinggi memang identik dengan kondisi tersebut, ditambah dengan jalanan yang naik turun. Hanya beberapa menit saja kami sampai di lapangan awal pendakian Bukit Sikunir. Pendaki dilarang untuk menginap di puncak, jadi terpaksa kami mendirikan tenda di lapangan itu.

Kali pertama bermalam dengan orang-orang tersayang, bunda dan sahabat-sahabatku. Malam itu rupanya bersahabat juga dengan kami. Sedikit demi sedikit bintang bermunculan menemani obrolan sederhana kami. Tidak lupa bercangkir-cangkir kopi dan teh hangat merasuki tubu kami. Tidak mengnal lagi kesunyian, yang ada hanya tawa yang memecah langit dan membangunkan bulan. Jika Payung Teduh punya lagu Menuju Senja, kami punya kenyataan menuju pagi. Karena mata kami enggan terpejam untuk sedikitpun melewatkan waktu kebersamaan itu (lebay kan sampai tak sedetikpun terpejam). 
 
Sebelum sang fajar datang terlebih dulu kami menjemputnya. Aku menggandeng hangat tangan bundaku untuk mendaki bersama ke Puncak Sikunir. Setengah perjalanan kami menikmati lampu-lampu yang satu per satu mulai dipadamkan. Cahaya mentari pun sedikit-sedikit menyelinap diantara dedaunan. Agak lama ya, karena bundaku sudah lumayan lemas dan harus banyak istirahat di perjalanan. Setelah sabar berjalan akhirnya bundaku sampai loh di puncak itu. Aku sangat bersyukur bunda bisa menikmatinya bukan hanya dalam lembaran fotoku, ya ngga?
Akhirnya tersenyum juga. Fb : Intan Nur Aini
Tau kan lembutnya, hangatnya, indahnya cahaya matahari pagi? Itulah kiasan untuk bundaku. Orang yang kuat, mimpi yang tinggi, tapi tetap lembut, hangat, dan cantik. 


ini bundaku, mana bundamu?
ini sahabatku, mana sahabatmu?
inilah kebahagiaan dari Tuhan.

Seseorang yang selalu bersinar di depan anaknya, selalu memberikan semangat di pagi hari, menyadarkan di siang hari, dan melelapkan di malam hari.
Maafkan aku yang hanya begini-begini saja kerjaannya. Merenung, menghayal, dan memikirkan hal yang tidak penting. Yang pasti aku tidak mau kehilangan CAHAYA BUNDA ku
twitter : @viedela_ve
IG : veviedelaak
phone : 085742283163

Surat untuk Tuhan

Ramadhan datang lagi. Aku belum mempersiapkan apapun untuk menyambutmu. Akulah si dekil, kotor, dan najis penuh dosa.  Aku malu untuk menyambut kedatanganmu tanpa sesuatu yang kuimpikan pada kehadirannmu tahun lalu. Setahun lalu kau memberikan sebuah nilai yang kujanjikan akan kupebaiki tahun ini. Seperti sebuah kompetisi yang kulakukan dengan waktu. Waktu berjalan lebih cepat dari yang kubayangkan tanpa meninggalkan kesalahan sedikitpun. Tapi aku? Banyak yang kulewatkan sampai saat ini. janjiku pada bunda, janjiku pada langit, dan janjiku pada diriku sendiri semua menjadi ingkar oleh diriku sendiri. Nyatanya aku berdusta.  Tapi mengapa tanpa dendam kau tetap mengunjungiku?  Bahkan kau rela menghapuskan dosa-dosaku tanpa pamrih. Masihkah aku pantas mendapatkannya?
Tuhan maafkan segala langkahku yang terlalu sering menyimpang. Maafkan segala pikiran busukku mengenai alam raya beserta isinya. Maafkan mataku yang selalu melirik hal bodoh yang tidak wajar dilakukan oleh seorang muslimah. Seluruh tubuhku yang melakukan yang Kau larang. Aku rela untuk dihempaskan ke dunia hitam agar aku dapat kembali ke keindahanmu dengan suci Tuhan.

Kalau ditanya apakah aku siap mati? Ah rasanya pertanyaan itu bodoh. Atau aku yang tidak berani karena aku belum punya “celengan” untuk menuju-Mu?
Aku tak lai berani untuk berjanji. aku hanya ingin melwatkan Ramadahnku bersama Tuhan, Bunda, Restu, dan sanak saudara dengan ketenangan. Marhaban Ya Ramadhan. Maafkan segala kesalahan kawan.

twitter: @viedela_ve
IG : veviedelaak
phone : 085742283163

Senin, 11 Mei 2015

Studi Lapangan Kecil dan Panjang di awal 2015 part 1

Tidak terasa sudah bulan Mei, dan saya baru ingat ada sesuatu yang belum saya kecitakan. Ini cerita yang pasti ada setiap tahun di Lawalata, tapi kali ini cerita saya berbeda. Tulisan ini saya buat pada bulan Februari 2015.



Gambar 1 anggota MPCA LAWALATA IPB sejumlah 19 orang yang siap menempuh Studi Lapangan Kecil

Saatnya datang kegiatan tahunan yang biasa dilakukan oleh Lawalata yaitu Studi Lapangan Kecil Masa Pembinaan Calon Anggota (SLK MPCA). Tujuan SLK untuk mempertajam materi yang telah diberikan dari pertama MPCA dilantik. Adapun materinya adalah survival, SAR, navigasi darat, metode komunikasi, jurnalistik, dan dokumentasi. SLK juga bertujuan untuk mempererat ikatan antarMPCA sehingga kedepannya akan mudah dilakukan kegiatan besar yang dilakukan bersama.

Sebelum melakukan kegiatan SLK tersebut, MPCA terlebih dahulu harus menjalani karantina yang dilakukan di sekertariat Lawalata. Karantina dilakukan untuk mempersiapkan seluruh keperluan untuk perjalanan panjang SLK. Persiapan tersebut antara lain adalah persiapan fisik dengan berolahraga rutin dengan porsi yang telah ditentukan oleh tim Badan Pembinaan Calon Anggota (BPCA) dan menjaga asupan makanan, mental, peralatan jalan minimum, dan berlatih koordinasi seperti membuat saung, taman, dan kolam di halaman sekertariat Lawalata, serta pendalaman literatur tentang jalur dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan selama SLK.

Jalur SLK dirumuskan oleh BPCA dengan persetujuan anggota Lawalata. Perjalanan dimulai dari desa Cirasamala, lalu naik ke gunung Halimun, setelah itu turun kembali menuju Kasepuhan Adat Ciptagelar melewati hutan Pameungpeuk, dengan tujuan akhir di pantai Seupang, Sawarna, Sukabumi. Semua rundownpun telah dibuat sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Tanggal 26 Januari 2015 adalah saatnya kami semua untuk packing. Segala sesuatu terkait logistik dipersiapkan dengan baik, tidak ada yang tertinggal, dan membuat packing-an serapih mungkin sehingga ransel terasa nyaman di punggung. MPCA yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 19 orang, dan anggota Lawalata yang mendampingi berjumlah 5 orang, yaitu Ve, Daus, Aziz, Raycel, dan Anisa. Sebenarnya anggota MPCA terdiri dari 20 orang, tetapi 1 orang tidak ikut dalam kegiatan SLK karena kecelakaan kecil yang dialaminya saat karantina.

Hari yang ditunggu-tunggupun datang, 19 anggota MPCA dan 5 anggota Lawalata terlihat gagah dengan ransel dan sepatu gunungnya masing-masing. Pukul 9.00 WIB kami berangkat menuju desa Cirasamala menggunakan satu buah truk. Kondisi jalan yang kurang baik karena melewati tumpukan batu membuat badan kami bergoyang dalam truk. Setelah 4 jam perjalanan kamipun sampai di desa Cirasamala. Turun dari truk kami melenjutkan dengan berjalan kaki menuju Gunung Halimun. Sesampainya di pucak 1 Halimun kami mendirikan tenda untuk menginap.

Gambar 2 Anisa, Ve, Daus, Pak Oding (ki-ka) 
selalu mendampingi MPCA selama perjalanan 
SLK di Gunung Halimun

Hari berikutnya adalah saatnya kami untuk menembus puncak utama Halimun ditemani Pak Oding warga asli desa Cirasamala. Perjalanan tersebut sangat menguji kesabaran kami, karena harus melewati 7 puncakan terlebih dahulu. Di puncak utama kami beristirahat dan makan siang terlebih dahulu. Tepat pukul 13.00 WIB kami turun dan langsung menuju hutan Pameungpeuk. Satu anggota Lawalata terlebih dahulu pulang karena ada kepentingan yang harus diselesaikan yaitu Anisa. Selain Anisa, semua melanjutkan perjalanan sampai ke pintu masuk hutan Pameungpeuk. Sampai di sana waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Di pintu masuk hutan Pameungpeuk kami kembali mendirikan tenda untuk beristirahat. Ada tambahan 2 orang anggota yaitu Akbar dan Aji. Hal itu membuat suasana semakin ramai.

Tanggal 29 Januari 2015 pukul 09.00 WIB kami melanjutkan perjalanan sampai setengah sebelum sampai ke Kasepuhan Adat Ciptagelar. Karena di pertengahan hutan itu kami akan menerapkan materi sesuai dengan rencana. Rencana kami adalah bermalam 3 hari di sana. Pada malam kedua ada juga tambahan anggota Lawalata yang menyusul yaitu Sheila, Ariya, Kasrizal, Galang, Irham, Hanif, dan Ira. Di sana, MPCA mempraktekkan lapangan SAR dan survival yang dilakukan dengan lancar.


Gambar 3 MPCA melakukan orientasi medan denga mengaplikasikan navigasi darat sebelum melanjutkan perjalanan

Disambung besok ya kawan, shalat Maghrib dulu. Masih banyak cerita sesampainya di Desa Ciptagelar, dan serunya di Pantai Seupang.

Twitter : @viedela_ve
IG : veviedelaak
Email : veviedelaak@gmail.com

Senin, 04 Mei 2015

Sebuah Buku untuk Hari Pendidikan nasional

Bersyukur bahwa Buku Hasil Ekspedisi Tanah Borneo yang berjuduk “Kampung Merabu, Serpihan Surga Rima Puri Tanah Borneo” telah selesai dibuat. Awalnya aku tak yakin buku ini akan selesai, karna setelah dikuatkan satu sama lain akhirnya kami mencoba memulai terlebih dahulu tanpa memikirkan hasilnya. Bulan November 2014 lalu aku bertemu dengan Mba Rita Mustikasari di suatu tempat secara tidak sengaja. Seminggu setelah itulah kami janjian untuk ketemu lagi.

Setidaknya aku sudah punya beberapa bayangan tentang cerita yang akan kami masukkan ke dalam buku tersebut. Yang pasti kami ingin foto kami mampang di dalam buku (selalu narsis, pengen banget dikenal orang). Salah satu dari kami nyletuk, “Kalau mau fotonya dimasukkin ya tulis ceritanya.”,  betul sih. Oh ya lanjut, paling tidak kalau hari Minggu ga ada kerjaan aku bertemu dengan Mba Itok (panggilan untuk Mba Rita Mustikasari) untuk sharing apa yang telah kami tulis dan curhat dikit tentang kendala peyusunan buku kami ini.

Berbulan-bulan kami mengerjakan ini (walaupun tidak sampai lembur setiap malam), tapi kami masih bisa jalan-jalan. Aku sempat pergi ke Lampung, Palembang, dan melakukan kegiatan perjalanan pajang SLK, mungkin jika aku tidak pergi buku ini bisa selesai lebih cepat. Setelah semua dokumen tulisan dan foto terkumpul, kami kemudian menyusun dan mengeditnya. Kami dibantu oleh Mba Itok da Mba Nonet (bernama asli Sudiah Istiqomah) dalam pengeditan. Wow 2 orang senior ini adalah pentolan-pentolan penulis di Lawalata IPB (organisasi kami), dengan sabarnya mendampingi dan memberi kami pengarahan pembuatan bukudari awal hingga selesai, bahkan hingga pempublikasian buku ini.
Cover Buku "Kampung Merabu, Serpihan Surga Rima Puri Tanah Borneo"

Hingga akhirnya tanggal 1 Mei 2015 buku kami sudah selesai dalam bentuk Pdf. Tanggal 2 Mei 2015 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional akhirnya kami launching buku “Kampung Merabu, Serpihan Surga Rima Puri Tanah Borneo” di Kedai Kopi Klotok Cibanteng Dramaga, Bogor (sebelah kanan Kantor Pegadaian). Kami memilih Hardiknas agar kita semua saling ingat bahwa menulis dan membaca adalah hal yang sangat penting dan membuat kita bebas berfikir tanpa batas.


Setelah launching rasanya seperti bisul yang pecah (walaupun aku belum pernah bisulan), lega banget. Bagus juga tanggapannya yang secara langsung diungkapkan kepada kami maupun lewat media sosial yang kami miliki. Beberapa orang yang memberi tanggapan menginginkan memiliki buku ini. Kami merasa sangat berharga bisa membagi pengalaman dengan orang lain. Kami harap dengan membaca buku ini, pembaca dapat merasakan berada di Kampung Merabu. Menikmati  keramahan warganya, bisa berenang di Sungai Lesan, dan bercerita tentang Bunga Inu dengan Pak Ransum (wakil kepala adat Dayak Lebo Kampung Merabu), berpesta serta menarikan tarian Remit Bunga, dan mencicipi manisnya Madu Hutan yang diproduksi sendiri oleh warga Kampung Merabu. 
Andayani, Kasrizal, Sheila, Ve (saya)

Twitter : @viedela_ve
Fb : Viedela AK
Email : veviedelaak@gmail.com
IG : veviedelaak

Selasa, 03 Maret 2015

Maling dan Keamanan

Seringkali aku merasa gelisah, keamananku terganggu. Berita begal dan maling sedang memarak di Bogor dan sekitarnya. Detak jantungku belakangan ini selalu berdetak lebih cepat setelah kejadian kemalingan 5 hari lalu. Bisa-bisanya maling sekarang sangat cerdas dalam memahami teori peluang. Tau aja kalau rumahku sedang tidak kosong.
Sepulang kuliah sore itu aku berniat pulang dan mengecek listrik di rumah kontrakanku di Perumahan Taman Dramaga Permai. Awalnya aku melihat suatu kejanggalan yang ada di dalam rumah, posisi kotak buku yang terbuka, kopet yang berada tidak pada tempatnya, dan saat membuka lemaripun rasanya baju berantakan. Padahal sebelumnya aku baru saja merapihkan semua itu.
Aku mulai curiga, kutelusuri setiap sudut rumahku apa yang sebenarnya telah terjadi, karena aku merasa perbuatan itu tidak mungkin dilakukan oleh makhluk halus yang licik. Itu adalah hasil tangan manusia yang serakah. Benar saja, pintu kamar sebelah telah terbongkar gemboknya. Di sana aku belum mengetahui barang yang hilang dari kamarku. Langsung saja aku ke ruang belakang dan melihat tembok yang sudah berlubang. Kalau sudah begini pasti ada yang tidak beres. Benar saja kulihat pompa air yang berada di dapur telah lenyap. Aku masih belum mempermasalahkan hal itu.
Beberapa detik aku merasa tidak punya tulag ketika aku tahu barang kesayanganku menghilang. Redo menghilang, Redo adalah kawan berpetualangku selama ini, dia adalah ransel gunungku. Saat itu aku mulai meneteskan air mata, rasanya separuh jiwaku pergi. Betapa teganya si maling, karena ternyata bukan hanya dua barang itu yang dia ambil, namun banyak lagi barang-barang yang tidak bisa juga dianggap remeh, seperti jaket, pakaian, HP (walaupun sudah tidak aku pakai), hingga barang-barang kecil seperti stop kontak dan beberapa celengan uang koin yang sengaja aku kumpulkan.
Kurang nikmat apa hidup di dunia ini, dengan bodohnya dia mengotori dengan perbuatan yang memalukan seerti itu. Atau mungkin aku yang sedang kurang beruntung, dan barang-barang yang diambilnya lebih berguna untuk dia. Aku tidak bisa memaknai dengan sempurna. Walaupun begitu aku harap kota ini masih aman untuk aku bermain dan belajar. Aku himbau untuk para pembaca agar selalu waspada, jaga diri dan barang anda dimanapun anda berada. Laporkan segera ke pihak keamanan jika terjadi suatu hal yang mengancam keamanan anda.
Twitter : @viedela_ve

Jumat, 13 Februari 2015

Merabu Juga Punya Rambo

Hutan Merabu adalah tempat main bapak borotot yang satu ini. Pak Rana adalah pribadi yang unik di Kampung Merabu. Parasnya yang kekar dengan gigi yang sedikit hitam membuat penampilannya semakin gagah, sehingga warga sering memanggilnya Rambo. Kebiasaan tidak memakai baju adalah salah satu hal unik Pak Rana yang memudahkan kami mengenalnya. Celana pendek dan sepatu karet cukup untuk menemaninya dalam petualangan di hutan. Dan seperti suku Dayak pada umumnya, Pak Rana tidak pernah lalai menggantungkan mandau di pinggangnya. “Kalau tidak bawa mandau, aku merasa ada yang kurang.”, ucap Rambo saat membersihkan tanah dari rumput liar.

Parasnya yang seram membuat kami takut menatapnya saat pertemuan pertama kami. Saat itu kami beradaa di kantor Kerima Puri sembari melakukan pembagian sumberdaya warga yang menemani kami dalam pengambilan data di hutan. Asap rokok pekat menyebul dari mulutnya, duduk di pojok ruangan Kantor Kerima Puri. Kami belum sempat berbincang dengannya, hanya saja beberapa kali kami meliriknya dari kejauhan tanpa sepengetahuannya.
Betapa kagetnya kami ketika mendengarnya tertawa, kami tertawa melihatnya tertawa. Gigi-gigi hitamnya ditonjolkan dan matanya yang sipit semakin tak terlihat ketika beliau tertawa. Dari hal tersebut kami tidak lagi canggung berkegiatan dengan beliau. Tergambar jelas bahwa beliau benar-benar seorang kawan yang peduli. Kami dibuat selalu ceria oleh Rambo yang satu ini. Hatinya begitu lembut, jauh berbeda dengan paras seramnya.
Pak Rana adalah mertua dari Kepala Kampung Merabu, Pak Franly Oley. Saat itu beliau sudah memiliki seorang cucu yang berernama Jesica Oley hasil perkawinan anak perempuannya. Pak Rana menyayangi Jesica, beliau mengabulkan semua kemauan cucu pertamanya tersebut.
Bicara tentang Merabu, tidak lepas juga bicara tentang hutannya yang menyimpan kekayaan nan melimpah. Hutan menjadi tempatnya unruk pulang. Karena hampir setiap hari beliau pergi ke sana. Banyak yang ia kerjakaan, dan sangkin seringnya hingga beliau hafal semua jenis pohon di hutan Merabu. Bukan hanya jenisnya, beliaupun paham manfaat dari setiap pohon. Karena beliau sendiri dengan warga Kampung Merabu masih sering menggunakan obat-obat alamiah yang diambil dari hutan. Sehingga beliau diutus oleh pihak The Nature Concervation untuk membantu kami mengambil data pohon dalam analisis vegetasi, untuk mengetahui nama lokal dan fungsi pohon tersebut.
Pak Rana menemani kami dalam pengambilan data analisi vegetasi di sekitar mulut gua Bloyot, Lubang Tembus, dan Sedepan Bu. Di Bloyot didapatkan hasil beberapa jenis pohon, yaitu petek, kelideng, ngelo, ketek-ketek, repeh, goros. Di Lubang Tembus memiliki beberapa jenis pohon, yaitu nayub, merenai, binang, langkor, dan ketek. Di sana juga terdapat banyak tumbuhan liana dan rotan yang biasa dimanfaatkan warga Merabu sebagai bahan kreatifitas. Sedangkan di gua Sedepan Bu hanya terdapat beberapa jenis pohon saja, hal tersebut terjadi karena jenis tanahnya yang berbeda dari Gua Bloyot dan Lubang Tembus. Tanah di Gua Sedepan Bu relatif lebih becek (karena merupakan aliran Sungai Bu), dan berbatu. Jenis yang diamati seperti binang dan ngelo, ukuran pohon juga relatif lebih kecil dari pohon-pohon yang diamati di eksokarst Bloyot dan Lubang Tembus.